Skip to main content

Review: Entrepreneur Talks (Tujuh Strategi Mengembangkan Bisnis) - Herlina P. Dewi

Foto: dok. pribadi
Whoa, aku penasaran betul sama buku ini semenjak pertama kali media sosial Stiletto woro-woro mempromosikannya sebelum terbit dulu. Beberapa kali berencana beli langsung di Tokopedia Stiletto Books, tapi selalu gagal karena berpikir bahwa aku akan ke Jogja dalam waktu dekat dan lebih baik beli sendiri ke kantor Stiletto sekalian belanja buku lain dan bertemu kru di balik layarnya. Tapi karena rencana itu akhirnya jadi wacana setelah berbulan-bulan, aku akhirnya membeli sendiri buku ini di Gramedia terdekat. Waktu itu sepulang kerja, entah kenapa tiba-tiba aku ingin sekali baca buku ini. Aneh banget, hahaha.

Well, Entrepreneur Talks ini -sesuai di sub judulnya, terbagi menjadi 7 bagian (good product, good promotion, social media marketing, good service, good team, all about management and finance, never ending innovation) . Semuanya berisi strategi membangun usaha atau bisnis dari nol. Beberapa hal yang kurang aku suka dari buku non fiksi termasuk buku mengembangkan bisnis adalah kalimat yang terkesan menggurui tapi tidak ada pengalaman nyata di dalamnya. Berbeda dengan buku kebanyakan, Mbak Herlina P Dewi menceritakan kisah jatuh bangunnya membangun Stiletto book dan berbagai lini Stiletto lainnya (Stiletto home decor, Stiletto Kiddo, dll) di setiap bagian yang ada.

Misal bagaimana ia membangun Stiletto (awalnya baru buku aja, belum menjual home decor tentunya), kemudian bagaimana ia menjalankan strategi social media marketing, sampai hal yang mungkin terkesan receh tetapi ternyata membawa pengaruh yang cukup besar seperti kapan waktu yang tepat untuk posting foto di media sosial, apa saja yang harus disiapkan jika ingin memiliki foto produk yang ciamik, dan bagaimana menyiasati agar produk kita bisa tiba dengan selamat dan cantik di tangan customer. 

Ada banyak sekali hal yang bisa diambil dari buku ini, bahasanya pun ringan dan gampang dipahami bahkan oleh awam yang baru berniat bangun usaha sendiri (seperti aku, tapi masih ngumpulin modal. Ehe). Penulisnya juga tidak terkesan menggurui dan sok tahu tentang semua hal. Alih-alih demikian, beliau kerap menceritakan bagaimana pengalamannya memperlakukan pelanggan, calon pelanggan, hingga tim Stiletto. Berawal dari bertiga, kini Stiletto sudah punya 40 orang karyawan tetap. Keren banget, ya!

Selain itu, menurut Mbak Herlina P Dewi juga, inovasi merupakan bagian yang sangat penting dalam sebuah bisnis. Kadang kita merasa ketika pelanggan sudah banyak dan selalu repeat order, berarti usaha kita sudah sukses dan tidak perlu diapa-apain lagi. Padahal seiring berkembangnya teknologi dan berjalannya waktu, kita harus terus bergerak mengikuti zaman. Harus ada inovasi. Nokia pernah runtuh karena enggan beralih ke Android di zaman smartphone bertumbuh. Friendster kalah keren dari Facebook yang terus berbenah. Banyak perusahaan besar pernah tumbang karena enggan melakukan inovasi dan sudah terlampau nyaman.

Selain itu, Entrepreneur Talks juga mengajarkan kita bagaimana membuat perencanaan dan catatan keuangan pribadi. Meski kadang kita merasa bodo dan tidak terlalu pintar akuntansi atau hitung-hitungan, tetapi pencatatan keuangan merupakan salah satu hal yang penting dalam membangun usaha. Bayangkan aja kalau setiap hari bisnis kita nggak punya catatan berapa banyak barang keluar dan berapa banyak bahan baku yang dibeli. Kita nggak tahu uangnya ke mana aja. Dan salah-salah malah bisa rugi telak.

Selain memaparkan teori, Entrepreneur Talks juga punya worksheet di tiap akhir babnya. Worksheet itu disarankan untuk diisi setiap kali kamu selesai membaca 1 bagian bab. Tujuannya mungkin evaluasi usaha/bisnismu sendiri sesuai dengan poin-poin yang sudah dikemukakan di dalam buku Entrepreneur Talks. 

Sejujurnya membaca buku ini agak 'berbahaya' juga, sebab aku jadi terpacu lagi untuk mencoba berbisnis, padahal belum ada modalnya. Modalku cuma skill main socmed dan bikin ads Facebook/Instagram dan mengedit foto level cetek. Hahaha. Tapi cita-citaku sih jauh lebih besar dari itu; yaitu punya hostel sendiri. Biar ada yang bisa aku pamerkan dan aku promosikan di Instagram nantinya. (halah).


Semoga bisa segera beneran memulai aksi membangun bisnis sendiri, agar tips-tips yang kubaca di buku ini tak sia-sia belaka :p Setelah sempat berpikir, bagaimana cara mempertahankan bisnis di tengah-tengah persaingan yang sangat keras di zaman sekarang (di mana semuanya ada dan gampang ditemukan di internet), Entrepreneur Talks karya Mbak Herlina P Dewi membuatku terpacu untuk semangat lagi. 

Kemudian tiba-tiba aku berpikir; semua orang pasti ingin jadi entrepreneur, tapi tak semua orang berani untuk memulainya. Mbak Herlina P Dewi adalah salah satu orang yang berani memulai --dan semoga suatu hari aku juga.

Buku Entrepreneur Talks ini harus aku rekomendasikan buat kamu-kamu-kamu yang baru akan membangun usaha tapi bingung apa aja yang harus diperhatikan dengan baik. Poinnya nggak banyak dan seribet buku sejenis lainnya, tapi aku yakin seluruh pesannya akan sampai dengan baik padamu.

Selamat membaca~
Dan selamat berbisnis~

Comments

Popular posts from this blog

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…