Skip to main content

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan XVI

Foto: Pexels
"Aku mau ngajak kamu dinner, sekalian mau coba salah satu restoran baru. Punya sepupuku, di kawasan Menteng." Awan membuka percakapan pagi itu tanpa basa-basi.

Arina tentu saja langsung memperkuat pertahanan hatinya. Mengecewakan orang lain memang bukan tujuan hidup Arina, tetapi ia juga harus menyadari apa tawaran yang harus ditolak atau diiyakan begitu saja.

"Maaf, Wan. Aku kayaknya nggak bisa."

"Ada acara? Atau...?"

"Aku nggak enak sama Bimo. Maksudku, kalau mau ngobrol, ada banyak cara selain dinner."
"Kamu nggak enak sama Bimo, atau sama Elang?"

Pertanyaan Awan langsung menusuk Arina. Diam-diam kepalanya menimbang sekali lagi. Apakah benar ia mengkhawatirkan Bimo? Toh, Bimo juga beberapa kali mengikuti reuni teman-teman kampusnya. Di sana sebagian besar perempuan dan semuanya mengagumi Bimo jauh dari yang pernah Arina bayangkan.

Seharusnya Arina tak khawatir tentang Bimo.

Tapi Elang? Arina menggeleng pelan, ia belum bertemu Elang bahkan sejak beberapa hari lalu. Dan ia tidak bisa menjernihkan pikirannya sendiri

"Lagipula, siapa yang bilang kita akan dinner berdua saja?"

Arina mengerutkan kening, sejujurnya ia tidak suka bertele-tele dengan lelaki ini. Tetapi entah kenapa rasa tidak enak kembali muncul di pikirannya. Takut dianggap terlalu keras dan mengecewakan orang.

"Dengan siapa lagi, memangnya?"
"Rahasia. Kamu nggak akan tahu kalau nggak ikut."
"Wan, ayolah.."
"Kita ketemu besok malam. Kujemput atau langsung di sana?"
"Awan..."
"Deal!"

Comments

Popular posts from this blog

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…