Skip to main content

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan XV

Foto: Pexels
Awan sedang sibuk membaca berita padi di sebuah portal online ketika suara itu mengganggunya. Pandangan Awan mau tak mau teralihkan dari iPad di hadapannya ketika seorang security di kantor Arina menyapa lelaki berambut cepak yang baru saja melangkah masuk.

"Eh, Mas Elang. Mbak Arina belum sampai. Mau ngantar sarapan lagi, ya? Rajin banget."

"Iya, Pak. Tapi saya buru-buru. Titip aja, ya. Masih ada kerjaan." Lelaki itu menyodorkan sebuah bungkusan berukuran sedang dan sebuah bungkusan kecil kepada security. "Yang kecil ini obat sakit kepala. Tolong ya, Pak Amin."

"Wah, siap, Mas."

"Oh iya," kemudian, tangannya meraih sesuatu dari ransel, menyodorkan sebuah roti terbungkus plastik, "ini buat Pak Amin, cuma ada satu, sih.. Tapi lumayan buat teman ngopi."

"Ada-ada aja Mas Elang ini. Repot-repot. Terima kasih, ya. Hati-hati di jalan."

Lelaki bernama Elang itu mengangguk santai, kemudian berbelok keluar dan menghilang ditelan pintu lift pertama yang kebetulan sedang terbuka.

Awan yakin, lelaki itu bukan kekasih Arina. Ia bukan lelaki yang dilihatnya di kafe tempo hari. Perawakan mereka berbeda, pun dengan gaya berpakaiannya. Tapi, siapa dia sebenarnya? Dari obrolan keduanya, tampaknya pria bernama Elang itu memang sudah biasa singgah ke kantor ini.
"Maaf, Pak..." Awan bangkit dari sofa yang didudukinya semenjak sepuluh menit lalu, "yang barusan itu, siapa ya?"

"Oh, bukan anak sini, Pak. Itu kenalan Mbak Arina. Kayaknya sih, pacarnya ya. Biasa antar sarapan atau makan siang. Apalagi kalau Mbak Arina lagi sakit, dia suka nitip obat juga."

Hal itu tidak menjawab rasa penasaran Awan, malah semakin menambah kebingungannya. Tapi tiba-tiba saja sebuah hal tercetus di kepalanya. Senyumnya pelan-pelan tersungging, sebuah senyum penuh pengharapan.

Tak lama, Arina masuk kemudian absen di mesin finger print di depan pintu. Perempuan itu hampir tak melihat kehadiran awan di lobi, jika saja Pak Amin tidak menyapa.

"Pagi, Mbak Arina, ini ada tamu."

Arina sedikit kaget dengan kehadiran Awan di sana. Sebelum segalanya reda, Pak Amin kembali menambahkan, "nah, kalau ini titipan dari Mas Elang. Tapi orangnya sudah pergi lagi. Katanya masih ada kerjaan, Mbak."

Bungkusan itu berpindah ke tangan Arina. Seporsi bubur ayam dan seplastik obat. Arina belum lupa bahwa tadi malam ia ngobrol dengan Elang di telepon dan mengeluh sakit kepala sejak sore.

Kecanggungan di lobi membuat suasana menjadi lebih hening. Awan berusaha tersenyum senatural mungkin untuk membuat Arina nyaman.

"Halo, Rin. Bisa ngobrol sebentar?"

Comments

Popular posts from this blog

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…