Skip to main content

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan XIV

Foto: Pexels
Elang sedang mengutak-atik kameranya ketika Bayu datang membawa seloyang pizza dan seperti biasa numpang kerja di rumah Elang.

"Si Alya berisik banget, karokean mulu sama temen-temennya.Gue nggak bisa konsentrasi." Bayu mengeluhkan adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMA sebanyak ratusan kali, dan Elang rasanya sudah bisa membuat daftar satu per satu kelakuan Alya yang membuat sahabat karibnya itu kesal.

"Santai. Tapi rumah gue masih berantakan."

"Perasaan tiap hari emang berantakan." Bayu tertawa sambil meletakkan pizza yang dibawanya di atas meja, 'oleh-oleh' numpang bekerja hari ini.

Tak lama, keduanya tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Bayu dengan laptop dan editan videonya, Elang dengan kamera dan hasil motretnya kemarin. Dua hari ini ia belum bertemu Arina. Ada sedikit rindu tersemat di dada Elang, tapi ia juga tahu bahwa Bimo sedang di Indonesia dan tidak ingin mengganggu Arina hanya karena rindunya yang tak beralasan.

"Gimana kabar Arina?" Bayu tiba-tiba saja buka suara seolah bisa membaca pikiran Elang.
"Gimana apanya?"

"Ya, apa aja. Kabarnya, mungkin? Atau, hubungan lo sama dia." Lelaki berambut agak gondrong itu menggigit pizza di tangannya, sepotong kecil daging jatuh ke pangkuan, tetapi Bayu tetap cuek dan terus mengunyah.

Elang mengerutkan kening. "Kalau gitu keduanya baik."

"Hubungan kalian tuh aneh banget, nggak, sih?"

"Aneh kenapa?"

"Ya, dia udah punya pacar, kan? Tapi masih sering nyari-nyari lo. Lo juga perhatian banget ke dia udah kayak ngurusin bini."

Elang terkekeh, "gue sama dia teman baik, Bay."

"Teman baik nggak pakai hati."

Elang bungkam sejenak. Sebuah perasaan aneh berdesir di hatinya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan apa dan mengapa. Bayu mungkin benar, ia sering mengkhawatirkan Arina --tapi tidak seperti seorang teman baik.

Mereka lebih dari itu.
Tetapi bukan sepasang kekasih.

Comments

Popular posts from this blog

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…