Skip to main content

Mencoba (dan memberanikan diri) Bikin Podcast


AKHIRNYA! 
Setelah sekian lama, akhirnya memberanikan diri untuk bikin podcast. Kurang lebih 6 bulan atau lebih sudah berpikir untuk mulai cuap-cuap dan bikin channel podcast sendiri. Meski nggak yakin akan langsung ramai yang dengar, tapi keinginan bikin podcast jadi semakin kuat karena ingin mendokumentasikan perjalanan-perjalanan tiap kali traveling ke manaaaa gitu.

Blog VS Podcast
Ya, ya, sebenarnya catatan perjalanan bisa banget didokumentasikan via blog. Tapi karena kesibukan sok sibuk, akhirnya sering nggak punya banyak waktu luang untuk menulis. Ditambah, sudah jenuh dengan melihat laptop seharian di kantor, kalau masih harus ditambah pulangnya lihat laptop untuk ngetik blog, wes malam itu rasanya mata, badan, dan pikiran akan sangat lelah berkali-lipat. Apalagi kalau besok paginya masih kerja. Ini ciyus, ini beneran. Ritme kerja tiap orang berbeda-beda, dan sekarang rasanya sedang berasa di kasta yang lebih tinggi terkait ritme kerja. Jadi makanya mencari alternatif lain yang tetap bisa mendokumentasikan perjalanan tanpa harus menulis. 

Blog akan tetap di-update tapi mungkin tidak akan sesering itu. Kalau menulis fiksi, mengulas kafe atau tempat makan, mungkin masih akan tayang di blog (blog baru pula, nggak seberapa yang view. Wkwk).

Kenapa bukan vlog?
Vlog merupakan hal yang sedang tren di kalangan millenial belakangan ini. Wadah yang paling banyak digunakan untuk posting Vlog adalah YouTube. Rasanya, sejauh ini YouTube belum punya saingan. Vlog memang terlihat lebih oke dan profesional, serta lebih menghibur karena ada video alias bergerak. Tetapi effort-nya pun dua kali lipat dibanding foto dan suara. Sebab mengedit video memang bukan perkara gampang. Apalagi kalau kalitas suara/gambarnya ada yang jelek, atau janggal. Harus dibenerin dulu seteliti mungkin sebelum diunggah.

Memang, ada aplikasi edit yang sederhana seperti Windows Movie Maker atau iMovie dari Apple, tapi menurut saya, bikin vlog tetap membutuhkan perhatian khusus. Ditambah, I'm not good looking enough untuk bisa menjadi seorang vloger. Rasanya aneh melihat wajah sendiri di layar kamera/laptop. Terus kalau lagi grogi kelihatan banget.


So, untuk sekarang ini, vlog bukan prioritas.

Awal mengenal podcast
Awalnya dengar podcast di Spotify. Kan sayang paket premiumnya kalau nggak dipakai. Di sana ada beberapa podcast berbahasa Indonesia yang update tiap beberapa waktu. Akhirnya coba buat akun Soundcloud untuk mencari lebih banyak podcast lokal. Ketemulah Podcast Besok Senin yang membahas tentang pasar barang bekas waktu itu. Karena memang lagi getol pengen ke pasar loak untuk mencari harta karun. 

Didengar-dengar, podcast lucu juga. Rasanya kayak menjadi penyiar untuk diri sendiri dan kawan-kawan terdekat (ya, pendengar pertama kita kan pasti teman dekat dulu, baru orang lain). Terus kepikiran kenapa nggak buat versi sendiri aja.

Meski kelihatannya simpel, ternyata bikin podcast harus putar otak juga untuk menambahkan lagu menjadi backsound di balik suara sendiri. Kalau dari PC ada Audacity yang lumayan legend dan terkenal itu. Nah, dari HP yang agak sulit, sebab di Android belum ada aplikasi yang menurutku benar-benar podcast friendly. Banyaknya aplikasi yang menggabungkan 2 musik/lagu sekaligus, bukan menimpa musik pada suara yang sudah kita rekam. Jadi nggak bisa digunakan.

Menemukan aplikasi Anchor FM
Setelah muter-muter Google PlayStore akhirnya nggak sengaja menemukan aplikasi namanya Anchor FM :D Aplikasi ini spesialis untuk buat podcast, bahkan bisa direkam langsung suaranya via aplikasi, kemudian ditambahkan instrumen atau sekadar musik intro cukup pendek pada bagian sambutan. Ajaibnya, ketika kita menambahkan musik, musik dari Anchor seakan bisa menyesuaikan dengan suara kita. Jadi sebenarnya musiknya nggak harus diedit dan diapa-apain lagi. Otomatis sudah sesuai dengan suara kita. Ketika kita lagi ngomong, musiknya berubah agak pelan tetapi tetap mengalun dengan konsisten sampai podcast selesai.

Podcast di Indonesia
Meski podcast adalah konsep yang cukup menarik dan sangat lazim di negara lain, tetapi kayaknya belum seramai itu di Indonesia. Ada banyak podcaster di dunia maya memang, meski pada akhirnya tidak semuanya aktif dan konsisten mengunggah karya. Ada akun-akun yang hiatus setelah mengunggah 1-2 karya saja di Soundcloud. Kemudian nggak pernah muncul lagi entah kenapa.

Saya rasa, kalau podcast berkembang dengan baik di Indonesia, Anchor.fm bisa menjadi salah satu aplikasi yang sangat digemari netijen. Selain fungsinya ganda dan pilihan musiknya banyak, aplikasi ini menuntun kita buat podcast dari 0 --bahkan cukup mudah digunakan oleh orang yang belum pernah rekaman podcast sama sekali  (oke, dalam hal ini maksudnya diri saya sendiri pun. Hahaha).

Kenapa namanya "#KeMana Podcast"?
Ini semua berawal dari tagar favoritku di Instagram. Biasanya kalau jalan-jalan pakai tagar #KeManaKita tapi kayaknya kepanjangan untuk jadi nama channel podcast. Akhirnya disingkat jadi #KeMana Podcast aja biar lebih mudah diingat. Dari namanya kelihatan banget bahwa podcast ini akan membahas tempat-tempa tertentu --khususnya tempat yang didatangi ketika liburan, baik dalam maupun luar negeri. 

Tak hanya fokus pada konten travel, rencananya #KeMana Podcast juga akan mulai belajar bahas ulasan buku, ulasan kopi susu kekinian juga mungkin, dan ulasan gim tertentu yang diunduh dari Google Play Store. Nggak ada yang tahu ke mana podcast ini nantinya akan berjalan, tapi nggak ada salahnya dijalani dengan santai. Muehehehe.

Semoga konsisten.
Selamat mendengarkan.

Comments

  1. Waaa baru tau podcast, pengen coba juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk, dicoba :D hehe. iya di Indonesia sepertinya masih belum terlalu umum, sih.

      Delete
  2. Nice info, saya tau podcast tapi belum pernah coba untuk mendengarakan.
    Langsung mendengarkan setelah baca postingan ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh, terima kasih sudah dengar ^^
      Terima kasih juga sudah mampir dan membaca. Salam kenal

      Delete
  3. Semoga tetap konsisten berkarya mbakk. Kasih lagu lagu yang menarik untuk podcastnya nanti :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha, terima kasih masukannya :D iya doain konsisten terus, hihi.
      Terima kasih sudah mampir kak ^^

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…