Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2018

Resolusi 2019 (biar kayak orang-orang)

Hari ini sudah tanggal 30 Desember 2018. Semua orang sudah berbondong-bondong menuliskan resolusi mereka sejak seminggu sebelum ini. Dan biar kayak orang,orang, kuingin juga menuliskan sedikit resolusi untuk tahun depan. Sudah menuliskan sedikit di IG Story tapi kayaknya kurang afdol kalau nggak dicatat juga di blog.

Jadi, inilah beberapa di antaranya!

1. Pengen belajar main ukulele
Ini sebenarnya baru kepikiran 2 bulan belakangan, melihat beberapa orang cover lagu dengan bantuan genjrengan ukulele, kayaknya imut juga. Terus katanya nggak afdol suka musik indie kalau nggak bisa main ukulele. Yah, yang kedua kayaknya cuma sepik cowok-cowok penyuka Danilla, sih. Namanya juga sepik. Nanti lihat cewek ngerokok dikit eh kaget, padahal Danilla pernah manggung sambil ngerokok. Demikian.


Untuk mewujudkan ini, akhirnya kemarin ikut pertemuan komunitas Jakarta Ukulele. Yang datang kurang lebih 10-15 orang. Semakin malam memang semakin ramai. Sayang aku ada janji lain jadi nggak bisa ikut sampai…

Review Game: Sara is Missing (SIM), Melacak Ponsel Orang Nggak Pernah Seseru Ini!

Kamu salah satu penonton film Searching yang tayang Agustus 2018 lalu? Kalau ya, kamu akan dapat gambaran lebih baik mengenai game Sara is Missing! Dulu pertama kali tahu game ini dari ulasan seorang vloger di YouTube, bisa cek di sini.
Kenapa aku bilang gambarannya akan lebih baik kalau sudah nonton Seraching? Sebab sebenarnya benang merahnya mirip. Searching mengisahkan tentang seorang ayah yang kehilangan anak perempuannya. Si anak tiba-tiba nggak pulang ke rumah berhari-hari dan laptop yang biasa dibawanya nggak dibawa sama sekali. Mulai cemas, si ayah pun mencoba melacak isi laptop tersebut, mulai dari siapa saja teman sekolah anaknya, hingga mencari history chat Facebook dan vlog anaknya. Tentu di laptop kita menyimpan semuanya dengan aman, salah satu yang harus dipecahkan orang lain sebelum membuka laptop kita adalah kata sandi. Petualangan si ayah dalam mencari tahu jejak anak perempuannya lewat laptop dan dunia maya itulah yang menjadikan Searching film yang menarik.
Sama se…

Mencoba (dan memberanikan diri) Bikin Podcast

AKHIRNYA!  Setelah sekian lama, akhirnya memberanikan diri untuk bikin podcast. Kurang lebih 6 bulan atau lebih sudah berpikir untuk mulai cuap-cuap dan bikin channel podcast sendiri. Meski nggak yakin akan langsung ramai yang dengar, tapi keinginan bikin podcast jadi semakin kuat karena ingin mendokumentasikan perjalanan-perjalanan tiap kali traveling ke manaaaa gitu.
Blog VS Podcast Ya, ya, sebenarnya catatan perjalanan bisa banget didokumentasikan via blog. Tapi karena kesibukan sok sibuk, akhirnya sering nggak punya banyak waktu luang untuk menulis. Ditambah, sudah jenuh dengan melihat laptop seharian di kantor, kalau masih harus ditambah pulangnya lihat laptop untuk ngetik blog, wes malam itu rasanya mata, badan, dan pikiran akan sangat lelah berkali-lipat. Apalagi kalau besok paginya masih kerja. Ini ciyus, ini beneran. Ritme kerja tiap orang berbeda-beda, dan sekarang rasanya sedang berasa di kasta yang lebih tinggi terkait ritme kerja. Jadi makanya mencari alternatif lain yang…

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan XVI

"Aku mau ngajak kamu dinner, sekalian mau coba salah satu restoran baru. Punya sepupuku, di kawasan Menteng." Awan membuka percakapan pagi itu tanpa basa-basi.

Arina tentu saja langsung memperkuat pertahanan hatinya. Mengecewakan orang lain memang bukan tujuan hidup Arina, tetapi ia juga harus menyadari apa tawaran yang harus ditolak atau diiyakan begitu saja.

"Maaf, Wan. Aku kayaknya nggak bisa."

"Ada acara? Atau...?"

"Aku nggak enak sama Bimo. Maksudku, kalau mau ngobrol, ada banyak cara selain dinner."
"Kamu nggak enak sama Bimo, atau sama Elang?"

Pertanyaan Awan langsung menusuk Arina. Diam-diam kepalanya menimbang sekali lagi. Apakah benar ia mengkhawatirkan Bimo? Toh, Bimo juga beberapa kali mengikuti reuni teman-teman kampusnya. Di sana sebagian besar perempuan dan semuanya mengagumi Bimo jauh dari yang pernah Arina bayangkan.

Seharusnya Arina tak khawatir tentang Bimo.

Tapi Elang? Arina menggeleng pelan, ia belum bertemu Elang…

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan XV

Awan sedang sibuk membaca berita padi di sebuah portal online ketika suara itu mengganggunya. Pandangan Awan mau tak mau teralihkan dari iPad di hadapannya ketika seorang security di kantor Arina menyapa lelaki berambut cepak yang baru saja melangkah masuk.

"Eh, Mas Elang. Mbak Arina belum sampai. Mau ngantar sarapan lagi, ya? Rajin banget."

"Iya, Pak. Tapi saya buru-buru. Titip aja, ya. Masih ada kerjaan." Lelaki itu menyodorkan sebuah bungkusan berukuran sedang dan sebuah bungkusan kecil kepada security. "Yang kecil ini obat sakit kepala. Tolong ya, Pak Amin."

"Wah, siap, Mas."

"Oh iya," kemudian, tangannya meraih sesuatu dari ransel, menyodorkan sebuah roti terbungkus plastik, "ini buat Pak Amin, cuma ada satu, sih.. Tapi lumayan buat teman ngopi."

"Ada-ada aja Mas Elang ini. Repot-repot. Terima kasih, ya. Hati-hati di jalan."

Lelaki bernama Elang itu mengangguk santai, kemudian berbelok keluar dan menghilang di…

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan XIV

Elang sedang mengutak-atik kameranya ketika Bayu datang membawa seloyang pizza dan seperti biasa numpang kerja di rumah Elang.

"Si Alya berisik banget, karokean mulu sama temen-temennya.Gue nggak bisa konsentrasi." Bayu mengeluhkan adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMA sebanyak ratusan kali, dan Elang rasanya sudah bisa membuat daftar satu per satu kelakuan Alya yang membuat sahabat karibnya itu kesal.

"Santai. Tapi rumah gue masih berantakan."

"Perasaan tiap hari emang berantakan." Bayu tertawa sambil meletakkan pizza yang dibawanya di atas meja, 'oleh-oleh' numpang bekerja hari ini.

Tak lama, keduanya tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Bayu dengan laptop dan editan videonya, Elang dengan kamera dan hasil motretnya kemarin. Dua hari ini ia belum bertemu Arina. Ada sedikit rindu tersemat di dada Elang, tapi ia juga tahu bahwa Bimo sedang di Indonesia dan tidak ingin mengganggu Arina hanya karena rindunya yang tak beralasan.

"…

Animo Bakery, a Hidden Gems in South Jakarta

Dalam seminggu belakangan ini, sudah 3x makan dan ngopi dari Animo Bakery. Awalnya cuma iseng nyari kedai kopi apa yang enak dan ada donatnya --di daerah Pasar Santa. Tapi secara nggak sengaja kemudian menemukan nama Animo Bakery. Lokasinya ada banyak --dan kayaknya memang di Selatan Jakarta semua. Satu di Petogogan alias Santa, tiga kedai lainnya ada di Cipete dan Cilandak. Yang akan gue review ini adalah yang di Cipete.
Pada kali pertama, gue pesan lewat GrabFood dan minta diantar ke kantor. Waktu itu ada satu hal yang sangat mengganggu selain kabar bahwa gue kehabian donat (dengan polosnya pesan jam 2 siang, dong, padahal dari pagi antreannya sudah panjang --dan baru tahu setelah baca review orang lain); es kopi susunya kemanisan banget! Asli, kayak minum Thai Tea :p Saking manisnya, gue nggak terima itu disebut es kopi susu, soalnya kayak susu dikopiin. Bukan kayak kopi dikasih susu.
Besoknya, gue memutuskan langsung ke tempatnya. Karena menurut Google, Animo Bakery yang di Cipet…

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan XIII

Arina membenarkan posisi duduknya untuk yang kesekian kali. Malam itu, restoran yang mereka datangi tidak terlalu ramai, di kawasan Selatan Jakarta, tak jauh dari perkantoran Arina. Bimo datang tepat waktu sesuai janji mereka. Lelaki itu perfeksionis dan nyaris tidak pernah terlambat. Didikan orangtuanya dan bisnis yang dipelajarinya sejak remaja membuat Bimo menjadi lelaki yang cukup disiplin termasuk soal waktu.
"Akhirnya bisa ketemu, ya." Bimo melemparkan seulas senyum pada kekasihnya yang sedang menatap kosong pada makanan yang baru saja tiba di atas meja mereka.
"Rin?"
"Hmm, ya?" Arina mengangkat wajahnya, menatap Bimo yang mulai memotong daging steak di atas piring.
"Kamu lagi ada masalah ya di kantor?"
"Nggak." Arina menggeleng pelan. Kalau pun ada, ia tak yakin Bimo tertarik mendengarnya. Lelaki itu terlalu sibuk untuk diusik, dan Arina terbiasa kecewa pada harapan-harapannya sendiri. Bimo tidak bisa menemaninya ke sana, Bimo …

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan XII

Keduanya sudah duduk di kedai kopi kecil yang berada di lobi perkantoran Arina. Awan memesan dua es kopi susu. Untuk Arina less sugar dan less ice. Lelaki itu agaknya masih cukup mengingat detail kopi favorit Arina yang memang tak pernah berubah sejak kuliah dulu. Setelah membayar pesanan dan meraih kopi masing-masing, kemudian di sinilah keduanya berada -di meja paling pojok, dekat jendela, dan bisa melihat banyak orang berlalu-lalang.

"Jadi, apakah Jakarta sudah bertambah sesak dan menyebalkan?" Awan membuka basa-basi di antara mereka.

Arina mengangguk pelan setelah menyeruput sedikit es kopi susunya. "Masih. Masih menyebalkan. Sekaligus masih memukau bagi banyak orang."

"Bukankah kamu bercita-cita ingin tinggal di kota yang kecil dan tenang?"

"Cita-cita yang terlalu muluk, sebab aku masih butuh penghasilan yang bagus." Arina menertawakan dirinya sendiri. Awan tidak tertawa, wajahnya tampak lebih serius dari yang sebelumnya.

"Tapi, kamu …

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan XI

"Apa kabar, Rin?"
"Sekarang kerja di mana?"
"Aku sudah lama ingin mampir ke Jakarta."

Arina terlelap malam itu setelah membayangkan sejuta kemungkinan kalimat pertama yang akan diucapkan Awan jika mereka benar-benar bertemu. Ia memutuskan untuk mendiamkan pesan yang dikirimkan Awan tadi pagi. Lelaki itu tidak mengirimkan pesan lainnya. Entah ia sadar Arina sudah membaca pesannya, atau malah belum menyadarinya sama sekali.

Arina berpikir keras sebelum tidur, sebab ia tidak suka tertidur dalam keadaan kalut. Tapi semakin keras ia mencoba memikirkan, semakin buntu pikirannya. Perempuan itu kemudian jatuh tertidur ketika memutuskan mungkin akan membalas pesan itu esok pagi -atau malah tidak usah dibalas.

Tapi langkah Awan lebih cepat daripada Arina. Ketika perempuan itu tiba di lobi kantornya, Awan sudah berdiri di sana dengan pandangan awas -seperti pemburu sedang menunggu mangsanya lewat di depan mata.

"Apa kabar, Rin? Lama nggak ketemu." Lelaki itu…

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan X

"Gimana liburanmu kemarin?" Ella menggeser kursinya mendekat ke kubikel Arina, ketika melihat perempuan itu sedang duduk sambil membenarkan polesan bedaknya. Keduanya datang lebih pagi hari ini, dan belum banyak orang di kantor.

Arina mengangkat bahu, "cukup menyenangkan. Setidaknya, itu trip paling menyenangkan dalam hidupku tahun ini."

"Tahun ini kamu baru ke Malang, dan Cirebon itu kota kedua yang kamu datangi." Ella seperti mengingatkan. Seolah tak peduli, Arina hanya tersenyum kecut. "Terus ke Malangnya kerja pula. Liputan." Ella menambahkan, dan sebuah bantal pun melayang ke wajahnya.

Arina tidak pernah tersinggung dengan ucapan-ucapan Ella, termasuk yang baru saja didengarnya. Ia tahu bahwa sahabatnya bergurau, dan juga tahu kapan Ella mengucapkan sesuatu dengan serius.
"Terus gimana Juara Keduamu itu?" Arina masih tidak bisa menahan tawa setiap kali Ella menyebut Elang sebagai 'Juara Kedua' --berkiblat pada sebuah lagu…

Belajar Aktif Nulis Blog Lagi (Setelah Sekian Lama)

Sudah agak lama sejak terakhir kali rajin menulis blog. Aku kayaknya termasuk orang yang percaya bahwa diriku ini nggak bakat total di satu bidang. Baik itu menulis, jadi bloger, atau bahkan jadi budak korporat sekalipun. Sejak sekolah, aku anak yang biasa-biasa saja nggak nggak pernah total kayak teman-teman yang lain. Pernah ikut berbagai ekskul dan kegiatan komunitas mulai dari menari sampai melukis -tapi semuanya cuma coba-coba. Iseng sesaat yang besoknya bosan.

Boleh jadi, menulis adalah salah satu hobiku yang bertahan paling lama di antara hobi musiman lainnya. Hobi ini kemudian berhasil mengantarkan aku menyelesaikan kuliah di saat-saat kritis bertahun lalu. Waktu itu aku nggak punya skill sama sekali, yang bisa aku jual cuma hobi menulis, dan berhasil masuk salah satu perusahaan asing tempatku kerja pertama kali juga sebagai content writer.

Walau aku sering merasa tulisan-tulisan lamaku jelek, tapi aku nggak bisa lupa bahwa menulis banyak menyelamatkan hidupku. Waktu hidup se…

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan IX

"Halo, kamu di mana? Kupikir HP kamu nggak aktif."
"Sedang di luar kota."
"Oh iya? Ada kerjaan?"
"Nggak ada, nggak piket juga. Cuma ingin jalan-jalan."
"Ke mana? Seru di sana?"
"Cirebon. Biasa aja. Cuma ingin menjauh dari Jakarta sebentar."
"Ohh, sama Ella, ya? Aku sedang di bandara, mau makan dulu lalu check in."

Kemudian diam. Arina bukannya tidak tahu hendak menjawab apa, tetapi lebih karena tidak ingin menjawab apapun lagi. Seperti tidak ada lagi hal yang ingin ia ucapkan, padahal di awal pertemuannya dengan lelaki itu, ia selalu rindu ingin menceritakan sesuatu. Ada sebuah bagian yang terasa hampa di hatinya kini, Arina tak tahu apa. Dan tidak ingin tahu. Setidaknya hari ini saja.

"Rin, are you okay?"
"Apa? Ya, aku baik-baik aja. Aku cuma sedang malas ngobrol banyak. Gimana bisnis kamu?"
"Everything is fine, aku sedang semangat untuk ekspansi ke luar. Papaku senang perkembangannya bagus. Dan…

Pengalaman Belanja di Ebay via Harga Dunia

Hari ini mau cerita gimana pengalaman belanja di Harga Dunia. Akhir September kemarin akhirnya memberanikan diri order e-reader, karena temenku yang biasa belanja dari Amazon merekomendasikan situs Harga Dunia. Dan karena kayaknya banyak yang mengira bahwa Harga Dunia ini penipu juga, kan. Mari berbagi pengalaman.
Katanya bisa order barang dari luar baik Amazon/Ebay, terus dibantuin pesan sama pihak Harga Dunia. Buyer hanya bayar fee jasa dan ongkir dari luar negeri + ongkir dari gudang Harga Dunia ke rumah kita. Kalau dari Amazon/Ebay statusnya free ongkir, berarti kita cuma bayar fee jasa + ongkir ke rumah aja. Wah! Cukup murah kalau dihitung-hitung.
Karena aku anaknya kadang suka males ngurusin ribet-ribet dan tak mau terkena masalah cukai-atau-apapun-namanya-terkait-membeli-barang-dari-luar-negeri, akhirnya aku order aja. Awalnya aku hubungi WA-nya Harga Dunia untuk nanya prosedurnya gimana. Kemudian adminnya Harga Dunia pun minta link barang yang mau kubeli. 
Aku kasih link Ebay…

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan VIII

Sekitar pukul sebelas siang, keduanya sudah melangkahkan kaki di Stasiun Cirebon. Arina cukup penasaran ke mana ia akan dibawa oleh langkah kakinya sendiri. Sejak kecil, ia selalu ingin jalan-jalan ke tempat paling jauh. Beberapa impiannya adalah Machu Picchu di Peru dan Santorini. Sialnya selama ini ia terlalu penakut untuk mulai melangkah sendiri. Tempat terjauh yang pernah didatanginya adalah Bunaken. Itu pun beramai-ramai dengan tim sekantor, dan jelas sensasinya akan berbeda dengan trip kali ini.
Meski Cirebon tidak terlalu jauh dan hanya berjarak kurang lebih 3 jam dari ibukota, Arina ingin menikmati waktunya dengan baik di Kota Wali ini, berharap permulaan dari proyek melarikan dirinya berhasil membunuh kesedihan-kesedihan sialan yang mampir tak tentu waktu.
Kamu di mana? Aku punya kabar gembira, saham yang kubeli kemarin perkembangannya bagus sekali. Aku akan ke Kuala Lumpur sore ini. Nanti kita ketemu sepulangnya aku dari sana Piket di kantor hari ini?
Arina menghela napas, membi…

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan VII

Empat puluh menit kemudian, mereka sudah tiba di Stasiun Gambir. Suasana masih sama ramainya dengan terakhir kali Elang singgah ke tempat ini --sewaktu ingin berburu foto untuk portofolionya. Terakhir kali yang entah kapan, Elang pun hampir tidak ingat. Arina tampak bersemangat untuk petualangan mereka kali ini, ia membuat dua potong roti isi telur dan daging dari bahan-bahan yang tersisa di kulkas Elang, kemudian mengecek apa saja yang harus dibawa sekali lagi sebelum berangkat.

"Bawa botol minum." Arina mengingatkan sebelum elang menutup ranselnya.
"Banyak yang jual air mineral kan, di minimarket."
"Iya, tapi nggak ada salahnya bawa air minum di botol. Nggak berkontribusi untuk menambah sampah plastik juga." Arina mencari botol minum milik Elang di lemari dapur, kemudian memastikan botol itu bersih dan mengisinya dengan air dari dispenser.

Dan sekarang perempuan itu sedang sibuk celingak-celinguk ke sana kemari mencari loket yang mereka tuju. Tidak beg…

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan VI

Elang masih cukup sadar untuk mengingat bahwa tempo hari ia berjanji menemani Arina untuk menuntaskan proyek melarikan dirinya. Tapi ia sama sekali tak menyangkan bahwa perempuan itu akan tiba-tiba saja muncul di depan rumahnya pagi-pagi buta, hari Sabtu pula.
Arina menekan bel tiga kali tanpa henti dan meninggalkan 5 panggilan tak terjawab di ponselnya. Elang bahkan nyaris tersandung barbelnya sendiri, ketika buru-buru keluar kamar untuk membukakan pintu. Rumah ini memang agak berantakan semenjak ibunya meninggal setahun lalu -dan Elang akhirnya resmi tinggal seorang diri.
"Rin? Kamu ngapain subuh-subuh gini?" "Subuh udah lewat, Elang." Arina tersenyum lebar di depan pintu. Elang menatap gadis itu dan sebuah ransel gemuk yang digendongnya. "Ayo kita berangkat. Kamu katanya nggak ada kegiatan hari ini."
"Iya, oke. Tapi ini masih jam 6 pagi. Kita mau ke mana? Itu kamu ngapain bawa ransel segala?" Elang mengucek matanya, kemudian menutup pintu se…

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan V

Keduanya sedang duduk menikmati makan malam ketika pintu terbuka lagi untuk kesekian kalinya. Malam itu kafe langganan mereka tak tampak ramai. Hanya ada beberapa meja terisi --meski beberapa pengunjung terus datang lagi. Elang melahap mi goreng jawa di pesanannya dengan gerakan cepat, sementara Arina sibuk dengan layar gawai dan membiarkan nasi gorengnya mendingin di atas meja.

Melihat perempuan itu tak kunjung memulai makan malamnya, Elang menurunkan garpu dan menatap Arina dengan pandangan mulai khawatir bercampur heran.

"Kamu masih mikirin kata Feby tempo hari, ya?"
"Nggak." Arina menggeleng pelan. "Nggak ada yang harus dipikirin. Dia nggak marahin aku, cuma mengingatkan. Dan aku memang salah. Dia nggak buang tulisanku aja, aku udah senang."
"Tulisanmu tetap diterbitkan?"
"Dengan bantuan edit sana-sini, akhirnya tetap tayang. Aku rasa Mbak Feby seperti menulis ulang kemudian menayangkannya tetap dengan namaku."

Elang mengangguk-an…

Pada Sebuah Perjalanan: Pertemuan IV

Saat itu yang terbayang di kepala Arina hanya satu; wajah Elang yang sedang berbinar menceritakan buku kumpulan puisi di sebuah sudut kedai kopi di Jalan Sabang, beberapa bulan lalu.

Lelaki itu datang dengan sangat ajaib dan magis. Tiba-tiba saja ia ada di hadapan Arina, dan tanpa perempuan itu sadari, ia sudah tenggelam dalam obrolan bersama Elang. Lelaki itu tak pernah memaksa orang lain meladeninya berbincang -tetapi mampu menghadirkan topik yang menarik untuk dibahas, termasuk di hadapan Arina yang pendiam dan tak suka berintraksi dengan orang asing.

Maaf, aku tidak bisa temani kamu hari ini. 
Kalau ada yang penting tinggalkan chat, aku akan meeting beberapa jam ke depan.
See you, Rin. Jangan lupa makan.

Arina mendengus kesal membaca pesan itu. Pesan yang sama selama beberapa minggu berturut-turut dan sama sekali tidak membuat perasaannya lega. Sebaliknya, malah menjadi pesan menyebalkan yang membuat pikirannya semakin menggerutu.

"Jangan cemberut terus, nanti pipi chubby-mu tum…