Review: Tempat Terbaik di Dunia - Roanne van Voorst

Beberapa waktu sebelum beli buku ini, banyak ulasan berseliweran di Instagram. Cukup menarik kalau dibaca. Blurb-nya juga cukup meyakinkan. Sampai akhirnya kebetulan sedang ada di Aksara Kemang, dan buku ini ada di salah satu rak. Kemudian tanpa ragu lagi mengambil dan membawanya ke kasir.

Tempat Terbaik di Dunia adalah salah satu non fiksi terbaik yang saya baca tahun ini. Kisah yang dituturkan Roanne dibuka dan ditutup dengan kalimat yang menghangatkan hati. Roanne van Voorst datang ke Jakarta untuk mengerjakan desertasi demi meraih gelar doktor. Penelitian itu mengharuskannya tinggal di sebuah perkampungan kumuh dan meneliti tentang banjir di Jakarta.

"Mau ikut?" Teriak seorang pemuda ke arah saya, di atas kebisingan deru mesin bus kota yang saya tumpangi. "Ke tempat terbaik di Indonesia. O tidak, ke tempat terbaik di dunia! Apa saja yang ingin kamu lakukan, bisa di sana, dan apa saja yang ingin kamu punya, ada di sana!"

Begitu Roanne membuka ceritanya di halaman blurb buku ini. Dan benar saja, setelah 'diajak berkeliling' perkampungan yang disamarkan namanya menjadi Bantaran Kali, Roanne benar-benar menunjukkan hal-hal yang nggak pernah saya sangka-sangka, padahal saya tinggal di Jakarta.

Kebanyakan orang menganggap bahwa di perkampungan kumuh seperti Bantaran Kali pastilah warganya tidak menyenangkan, tidak kooperatif, dan kriminal. Kemudian Roanne menyusuri tempat itu dan tinggal bersama mereka selama setahun lamanya, untuk bisa mengenal warga Bantaran Kali lebih jauh (dan akhirnya bisa menceritakan semuanya kepada dunia luar). Di sana mereka hidup berdampingan dengan damai dan saling membantu, beberapa kali ada kejadian dan cerita lucu, tak jarang juga bergotong-royong menghadapi banjir musiman yang selalu melanda Jakarta.

Kemiskinan tak lantas menghapus kemanusiaan mereka. Di sana Roanne yang bule itu tinggal dan makan bersama mereka. Dirawat ketika sakit. Ditunjukkan hal-hal yang ada di kampung mereka. Roanne menceritakan bagaimana bersahabatnya orang Bantaran Kali, sekaligus beberapa kenyataan hidup mereka yang mungkin tidak diketahui banyak orang termasuk saya.

Ada yang berkencan dengan petugas-petugas tertentu karena dijanjikan keamanan seandainya ada penggusuran, atau kadang berkencan untuk mendapatkan batu baterai untuk senternya. Bahkan Tikus, pemuda yang mengajak Roanne ke Bantaran kali, punya cita-cita membuat tempat fitness sendiri dan bisa mewujudkannya dengan barang-barang sederhana yang ditemui di pinggir kali atau toko bangunan. Fungsinya sama, tak kalah dengan tempat gym elit ibukota.

Yang paling menarik adalah kisah mengenai Pinter si pemilik bank keliling. Ia mengumpulkan tabungan milik warga Bantaran Kali setiap hari. Ada yang menabung tiga ribu Rupiah sehari, ada juga yang menabung lima ratus bahkan lebih receh dari itu. Mereka menabung karena punya keinginan tertentu, misal beli seragam sekolah anak, beli televisi rusak, memperbaiki rumah, dan lain sebagainya.

Menurut saya konsep bank keliling itu menarik, dan tercipta karena bank pada umumnya tidak mau menerima nasabah yang tidak bisa membayar mininum saldo buka tabungan, yang tidak punya identitas, etc. Tapi, bank keliling tidak pilih nasabah. Semua warga Bantaran Kali bisa jadi nasabah. Bahkan bisa meminjam uang kepada bank keliling milik Pinter jika mereka membutuhkannya.

Whoaa, dan akhirnya saya selesai juga membaca Tempat Terbaik di Dunia. Roanne benar-benar menuliskannya dengan apik dan rapi sekali. Seolah-olah ia sedang menuliskan sebuah buku harian. Salah satu alasan Roanne menulis buku ini juga menarik: karena Tikus yang memintanya. Dan semua nama disamarkan.

Mengapa?
"Suara kami takkan didengar. Kami hanya penduduk kampung kumuh. Tapi tulisanmu masih akan dibaca banyak orang dan mereka bisa tahu mengenai tempat ini."

Mengenai tempat terbaik di dunia yang sekarang tak ada lagi karena sudah digusur oleh pemerintah, diratakan oleh buldozer kuning raksasa.

0 Comments