Skip to main content

Review: Resep Membuat Jagat Raya - Abinaya Ghina Jamela


Mungkin tidak semua pembaca buku mengenal nama Abinaya Ghina Jamela, tapi satu hal yang harus kalian percaya adalah bahwa anak ini punya imajinasi seluas langit. Saya di usia 9 tahun dulu mungkin tak akan ada apa-apanya dibanding Naya. Well, semua anak bisa saja menulis, bisa saja bercerita. Tapi tutur kata dan pemilihan diksi Naya dalam buku Resep Membuat Jagat Raya benar-benar komposisi yang ajaib. Saya seperti tidak membaca tulisan karya anak umur 9 tahun.

Pada kata pengantar, ibu Naya membenarkan bahwa setelah lepas dari jerat televisi, anaknya banyak membaca buku dan menggambar. Hal itulah yang kemudian memancing Naya untuk berkarya. Beragam puisi yang dimuat dalam buku ini sebenarnya berangkat dari tema yang sangat sederhana; misalnya dari teman-teman sekelas Naya di sekolah, film yang ditontonnya di bioskop, benda-benda yang dibeli ibunya, kue yang mereka masak, atau bahkan pertemuannya dengan teman-teman sang ibu. Bedanya, Naya bisa meramu semuanya menjadi kata-kata yang sangat indah untuk dibaca. 

Beberapa favorit saya adalah puisi-puisi berikut.
Blurb sekaligus puisi yang diambil untuk menjadi judul bukunya
atau mau kisah paling sederhana? Ini tentang Dory si ikan pelupa

Tapi puisi yang bikin saya takjub pada Naya adalah puisi berjudul Bertemu Om Saut yang menceritakan pertemuannya dengan penyair Saut Situmorang, serta puisi lain yang judulnya Anak Lelaki Berpiyama. Jika boleh menebak, puisi ini sepertinya berangkat dari sebuah film berjudul The Boy in the Striped Pajamas (2008) yang menceritakan persahabatan anak komandan NAZI dengan anak Yahudi. Keduanya sering main bersama, hingga si anak komandan terjebak bersama orang-orang Yahudi dan ikut terbunuh dalam kamar gas beracun. Pertemanan polos itulah yang kemudian dituliskan menjadi puisi. Ajaib, anak seumuran Naya menggambarkan apa yang ditontonnya dengan sangat baik, kemudian menjadikannya sebuah puisi yang indah. 

Naya bisa ditemui di website pribadinya (keren binggo, kan, udah punya website sendiri. Aku butiran debu. Heuheu). Oh iya, Resep Membuat Jagat Raya bisa didapatkan di toko-toko buku indie. Saya membelinya seharga Rp 40.000,- di Ak.sa.ra. Kemang. Sepertinya di Post Santa juga ada. Sebenarnya selain buku puisi ini, Naya juga punya buku kumpulan cerpen --nggak sengaja lihat di rak tadi, tapi belum dibeli karena sedang tidak mood baca cerita pendek. Mungkin kali yang lain akan coba beli juga. Senang bisa membaca karya penulis cilik sehebat Naya, semoga ia terus berkarya dan berkarya lagi --mengantarkan keajaiban-keajaiban lain kepada pembaca di seluruh dunia.

Comments

Popular posts from this blog

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…