Skip to main content

Rayya, Cahaya di Atas Cahaya: Sebuah Film tentang Pencarian Jati Diri dan Berdamai dengan Masa Lalu


Rayya, Cahaya di atas Cahaya memang bukan film baru, film ini pertama kali tayang pada tahun 2012, sekitar 6 tahun yang lalu. Tapi entah kenapa sampai hari ini masih suka mengulang-ulang nonton film ini. Rayya mungkin bukan tipikal film yang akan laris di pasaran dan disukai banyak orang, tapi setidaknya menurut saya, Rayya adalah film yang mengupas cukup dalam mengenai pencarian jati diri. Setiap scene demi scene yang disuguhkan dalam film ini seperti punya kekuatan tersendiri, dan bikin penontonnya pengen kembali merenungi hidup masing-masing.

Rayya, Cahaya di atas Cahaya berkisah mengenai seorang perempuan bernama Rayya --bintang besar di Indonesia, artis berbakat, artis kaya raya, dan segala hal yang gemerlap ada dalam dirinya. Semua orang melihat Rayya tanpa cela --kecuali diri Rayya sendiri. Hanya dirinya sendiri yang mengetahui bagaimana sisi kelam kehidupan Rayya.

Suatu hari ketika proses pembuatan buku biografinya, Rayya memberikan 1 syarat mutlak kepada managernya: ia dan fotografer buku itu harus mengadakan perjalanan berdua saja. Terpilihlah Kemal, fotografer gaul ibukota yang pada akhirnya menyerah dengan sikap 'aneh' Rayya. Kemal tidak sengaja berbohong mengenai hal kecil, tapi Rayya marah besar dan mengusirnya pulang. Adalah Arya, fotografer senior yang cukup berumur, yang kemudian menjadi pengganti Kemal. Ajaibnya, Rayya ternyata bisa 'dihandle' dengan baik oleh Arya, sehingga perjalanan mereka terus berlanjut. Rayya dan Arya pun melewati perjalanan darat dengan mobil, berangkat dari Jakarta menuju daerah-daerah kecil seperti Jogja dan Lasem, hingga berakhir di Bali.

Gambar dari sini

Dalam perjalanan itu, mereka berdua semakin mengenal satu sama lain, dan juga memahami kesedihan satu sama lain. Sama dengan Rayya, Arya juga orang yang berusaha memendam sakit hatinya. Bedanya, Rayya menyimpannya menjadi dendam, Arya menyimpannya menjadi rasa patah hati berkepanjangan. Rayya menyebut perjalanannya itu sebagai perjalanan untuk bunuh diri. Arya menemani dan menjaga Rayya di sepanjang perjalanan mereka, hingga ia sadar bahwa mereka harus menyelesaikan masa lalu masing-masing untuk bisa membuang rasa sakit itu dan menjalani kehidupan yang baru.

Rayya mungkin adalah saya, Rayya juga mungkin adalah kita. Bagi saya, menonton film Rayya seperti masuk ke dalam sebuah perjalanan spiritual. Rayya memang bukan 'film bagus' tapi lebih ke film yang meninggalkan kesan mendalam setidaknya bagi saya sendiri.

Gambar: iradiofm

Cukup rekomen kalau kamu suka film-film sederhana tapi mengena. Agak jarang memang ada film Indonesia dengan tema semacam ini. Bisa dihitung jari, mungkin. Jadi, Rayya hingga hari ini masih menjadi 'film wajib' buat saya. Semoga kelak buat kamu juga.

Terserah apakah ini dosa, heroisme, atau justru pengecut; bahwa saya mau bunuh diri. Karena saya tidak mau membunuh orang lain, seberapa sakit pun hati saya...
Biar nontonnya makin afdol

Comments

  1. saya jd penasaran dg film ini, ntar nonton ah, apalagi salahsatu setingnyadi Jogja hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat yang nggak suka film sejenis ini, mungkin akan terasa membosankan, Om. Tapi nggak ada salahnya dicoba, kali sesuai seleramu juga :D selamat menonton!

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…