Skip to main content

Liam dan Laila; Perjuangan Cinta di Negeri Minang

Gambar: Wikipedia

Akhirnya bisa meluangkan waktu untuk nulis review ini. Sebenarnya sudah nonton Liam dan Laila sejak minggu lalu, 2 hari sejak hari pertama launching filmnya. Meskipun waktu saya nonton adalah hari-hari pertama tayangnya, tapi studio nggak penuh --bahkan bisa dibilang sepi. Entah karena nontonnya memang di bioskop yang jauh banget, atau memang peminatnya sedikit. Well, Liam dan Laila ini memang film segmented, sih. Buat orang yang besar di Sumatera Barat, sangat menyenangkan buat saya sebab nggak perlu baca subtitle lagi. 90% dialog film ini adalah bahasa minang --tentu saja. Bagi yang penasaran ingin nonton tapi nggak paham bahasa minang, tenang aja, karena ada subtitlenya.

Liam dan Laila berkisah mengenai seorang laki-laki bernama William yang datang jauh-jauh dari Paris untuk memperjuangkan cintanya kepada Laila --seorang wanita minang yang tinggal di Bukittinggi. Mereka berkenalan melalui Facebook karena Laila punya online shop yang menjual kerajinan tangan karyanya sendiri. William yang kala itu sedang mencari tahu tentang Islam pun berdiskusi dengan Laila. Takjub dengan pandangan Laila terhadap agama Islam, Liam kelamaan jatuh cinta dan ingin menikahi Laila.
Gambar: Viva
Yhak, bisa ditebak, bahwa persoalan dalam film ini adalah adat dan agama. Bukan rahasia lagi kalau 'birokrasi' dalam keluarga minang itu tentu jauh berbeda dengan keluarga-keluarga di barat sana. Liam tidak bisa begitu saja datang dan menikahi Laila, sebab ia harus melewati banyak rintangan. Dengan bantuan Angku Jamil yang diperankan David Chalik dengan apik, serta Pian (adik laki-laki Laila), Liam pun berjuang mengurus semuanya. Hanya ada waktu 30 hari sebelum ia dideportasi dari Indonesia. Di sisi lain, Laila memang sudah waktunya menikah. Dan lebih mbuletnya, mantan pacar Laila kembali lagi ke kampung setelah mereka berpisah sekian lama --berharap bisa melamar Laila sekali lagi.

Selain pertimbangan dari mamak (saudara laki-laki ibu alias om) Laila, pertimbangan keluarga besar juga dibutuhkan. Diadakanlah musyawarah dan mufakat untuk mencapai persetujuan keluarga besar. Semuanya resah, tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan Liam di Paris, siapa dia sebenarnya, dan apakah ia punya rencana buruk terhadap Islam.

Dari segi cerita, Liam dan Laila sebenarnya bukan hal baru. Kerumitan-kerumitan itu mungkin sudah pernah terjadi dalam film-film lainnya. Tapi secara khusus, Liam dan Laila menyorot budaya minang dengan cukup apik. Perdebatan alot keluarga besar Laila itu tentu 'Minang banget'. Ketakutan mereka pun tentu sangat relate dengan kenyataan yang ada. Oh iya, konon katanya film ini memang dari kisah nyata, tapi nggak tahu deh lengkapnya gimana.


So, kalau kamu memang tertarik pada budaya minang, film ini cukup baik untuk ditonton. Nggak ada salahnya. Ohhh, atau kalau mau belajar bahasa minang, Liam dan Laila juga oke. Rasa-rasanya tokoh-tokoh utama film ini (selain Liam, tentunya) memang sengaja dipilih orang-orang minang. David Chalik dan Nirina Zubir aslinya memang orang minang, dan logat minang mereka bisa dibilang natural banget. Super sekali.

Sisanya nggak aku kenal, tapi kurasa juga sedikit banyaknya orang lokal asli. Entahlah. Tapi Liam dan Laila pantas mendapat ganjaran 8 dari 10 bintang kalau menurut versiku. Selamat menonton. Semoga masih bertahan di bioskop :)

Comments

Popular posts from this blog

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…