Skip to main content

Trip Sumbar: Perjalanan Menuju Pulang


Akhir pekan kemarin, saya berkesempatan pulang ke Sumatera Barat setelah 7 tahun nggak pulang. Nggak usah ditanya gimana rasanya. Kangen, senang, terharu, ya kira-kira begitulah. Selama ini nggak ada yang percaya bahwa saya bisa 'pulang' atau keluar dari Jakarta --selain diri saya sendiri. Ketika saya berpikir mungkin memang orang-orang benar --bahwa saya nggak bisa apa-apa, saya nggak punya apa-apa, saya kemudian mendapatkan banyak hal dan secara ajaib bisa ke mana-mana. 

Ketika pertama kali tiba di Bandara Minangkabau setelah 7 tahun, rasanya pengen ngetawain diri sendiri dan orang-orang yang pernah bilang: duh kamu gak bakalan bisa ke mana-mana. Kamu punya apa?

Akhirnya sekarang bisa.

Destinasi pertama yang kami datangi adalah Lembah Anai --dalam perjalanan ke Bukittinggi. Tempatnya lagi nggak terlalu rame, sih. Sempat juga foto-foto sebentar, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Di Bukittinggi cuma mampir ke Taman Bung Hatta dan distro Kapuyuak --semacam kaos lucu ala Joger-nya Sumatera Barat. Sayang sekali nggak bisa ke Jam Gadang karena Jam Gadangnya lagi renovasi. Ditutup dan nggak boleh foto dari jarak dekat. Pasar Atas alias pasa Ateh juga lagi dibongkar jadi pedagangnya sedikit. Agak kecewa tapi jadi ada alasan balik lagi, tak apalah.


Sepulangnya, kami lewat Kelok 44 dan mampir ke Maninjau. Di sejajaran Maninjau --tepatnya di Kabupaten Agam, ada Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Karena penasaran akhirnya saya minta mampir ke sana. Tempatnya di antara rumah-rumah warga, dan agak sepi. Di sore yang agak mendung itu cuma kami berdua yang datang. Ada seorang bapak-bapak dan seorang anak muda sedang menjaga rumah beliau. Masuk ke museumnya nggak dipungut biaya sepeser pun, tapi ada kotak donasi yang bisa diisi seikhlasnya. Ya, hitung-hitung membantu mereka merawat tempat bersejarah itu, yekan.

Bapak-bapaknya sempat mengajak kami ngobrol sebentar, bertanya-tanya kapan kami sampai di Sumbar dan sudah ke mana aja. Di museum tersebut ada foto-foto Buya Hamka dan benda-benda yang pernah beliau gunakan seperti mesin tik, kursi, tongkat, dan hasil karya, hingga lukisan atau foto-foto beliau. Seharusnya, museum itu juga menjual buku-buku karya beliau, tapi tokonya sedang ditutup. Katanya belum dicetak lagi oleh penerbit. Sayang sekali. Padahal menurut saya, seharusnya di sanalah koleksi yang lebih lengkap bisa ditemui.

Pengunjung lain kemudian datang dan ikut melihat-lihat. Kami pamit karena sudah mulai hujan, dan harus melanjutkan perjalanan pulang ke Padang sebelum malam tiba. Cukup berkesan bisa berkesempatan mampir ke sana, dan berencana mampir ke rumah Bung Hatta atau Tan Malaka. Mungkin bisa jadi next targetnya.

Masjid Raya Sumatera Barat
Nostalgia di Padang
Keesokan harinya, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di kota Padang, karena ada beberapa keperluan termasuk ketemu temen lama. Kotanya sudah banyak berubah, sudah ada Trans Padang --ala-ala Transjakarta tapi busnya lebih kecil. Sudah punya Transmart dan beberapa kafe baru juga.

7 tahun nggak ke Padang, perubahannya jelas berasa. Keliling di sepanjang wilayah pantai, kemudian cicip es durian yang cukup legend di sana, sekaligus makan di rumah makan yang cukup terkenal. Lebih-lebih dari Sederhana. Namanya Lamun Ombak. Aslik, dendeng baladonya enak banget. Jariang (jengkol)nya juga enak, ikan bakarnya fresh. Kayaknya nggak ada menu yang nggak enak di sana. Selain itu, sempat juga nostalgia sama makanan yang lain. Nyari lontong gulai, lotek, sala, dan sebagainya. Gendats!

 

Pulang yang akhirnya tercapai
Tapi masih belum puas sih. Masih tetap pengen balik. Apalagi kemarin nggak sempat beli oleh-oleh sebab buru-buru ke bandara paginya --takut ketinggalan pesawat, dan sialannya, airlines yang hobinya delay itu lagi tepat waktu (yeah, telat sih tapi cuma 30 menitan).

Well, nanti akan mampir lagi.
Senang bisa pulang.

Pantai Padang

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…