Skip to main content

Trip Cirebon 3: Menggali Feminisme Lebih Jauh, Mengenal Islam Lebih Jauh Lagi

Dok: Xpedisifeminis
Postingan yang ini sebenarnya lebih merupakan ke opini pribadi mengenai bagaimana saya merasakan perjalanan ke Cirebon bersama Xpedisi Feminis kemarin. Mungkin kesan yang saya rasakan sedikit berbeda dengan teman-teman yang lain. Sepertinya, lho, ya. Jika teman-teman yang lain merasa bisa mengenal feminisme lebih dalam dan mengenal langsung tokoh-tokoh perempuan yang feminis, saya justru merasa semakin jauh dari apa yang saya ketahui sebelumnya. Apa yang saya ketahui pun sebenarnya tidak terlalu banyak, bayangkan jika semuanya semakin terasa jauh.

Sebaliknya, saya merasa bahwa nilai-nilai Islam yang dibawa di dalam perjalanan ini bikin adem. Saya bisa mengenal orang-orang hebat. Para Kyai yang berpikiran sangat kritis dan terbuka pada perbedaan, sangat toleran --bahkan saya sempat berpikir jika mereka tiba di Jakarta mungkin akan diteriaki JIL oleh netijen yang budiman. Selain itu, saya juga melihat langsung dengan Nyai Hj. Masriyah Amva --pemimpin pesantren Kebon Jambu al-Islamy, Cirebon. 

Nurul dari komunitas Cherbon Feminist bersama Nyai Hj. Masriyah (dok: Xpedisifeminis)
Dari mereka saya belajar banyak hal. Saya melihat mereka sebagai orang-orang yang sangat teduh. Nyai. Hk. Masriyah Amva belajar untuk mandiri dan membimbing pesantren Kebon Jambu dengan baik. Membesarkan pondok seorang diri tentu bukan tugas yang mudah bagi seorang perempuan, tetapi beliau bisa melakukannya hingga kini. Ada banyak sekali santri dan santriwati yang saya jumpai ketika berkunjung ke pondok beliau. Semuanya berlaku dan bertutur kata baik, seolah melihat saya seperti seorang kawan lama --padahal kami baru saja bertemu.

Saya memang belum pernah ke pondok sebelumnya meski orang-orang yang pernah dekat dan sedang dekat dengan saya adalah lulusan-lulusan pondok. Pacar saya pun pernah berada di pondok semasa remajanya, dan banyak bercerita bagaimana kehidupan santri di dalam pondok. Saya pikir hidup di pondok tidak menyenangkan karena semuanya serba diatur, tapi toh hidup bebas tidak juga menjamin kita benar-benar 100% bahagia pada akhirnya. 

Di pondok, saya melihat banyak tawa, senyuman, ketekunan. Menjauh dari dunia luar dan pergi ke pondok rasanya justru lebih menenangkan. Saya melihat mereka belajar, memasak bersama, mencuci piring, dan tentu saja menjamu tamu-tamu yang datang setiap harinya. Begitu kami tiba, para santriwati langsung menyuguhkan bergelas-gelas teh manis hangat dan air mineral gelas, plus camilan dan aneka gorengan. Bahkan mereka sudah menyiapkan bakso dalam panci besar dan nasi serta lauk untuk makan malam bersama. 


Saya tidak pernah berada di dalam 'rumah' yang seramai itu sebelumnya sepanjang hidup saya. Tidak juga di masa kecil. Belum pernah ada yang menyambut saya datang seperti berkata selamat pulang, semuanya baik-baik saja di sini. Mari bahagia dan duduk makan bersama. 

Perasaan yang aneh, tapi saya menyukainya. Xpedisifeminis ternyata membawa pengalaman tersendiri bagi saya akhir pekan yang lalu. Dan sekarang saya menunggu destinasi-destinasi berikutnya, bersama ataupun tidak bersama Xpedisifeminis. Saya masih penasaran ingin berkunjung ke kota-kota kecil dan bersahaja seperti Cirebon. Mungkin Kediri, mungkin Blitar, mungkin Lasem, mungkin Magelang. Entah, bisa ke mana saja. 

Jadi, #KeManaKita?

Comments

Popular posts from this blog

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…