Skip to main content

Searching: Seberapa Jauh Kamu Mengenal Orang Terdekatmu?

Dok: cinematerial
Kemarin malam akhirnya kesampaian nonton film Searching setelah penasaran sejak hari pertama kemunculannya. Setelah kejar-kejar waktu ke Pondok Indah Mall, akhirnya berhasil mendapatkan kursi di barisan E --nggak terlalu rendah dan nggak juga terlalu tinggi di atas. Kebetulan studio hari itu nggak terlalu penuh. 

Searching berkisah mengenai David Kim --seorang suami yang ditinggal istrinya karena penyakit kanker dan membesarkan anak mereka yang mulai beranjak remaja sendirian. David berusaha tidak mengungkit lagi mengenai istrinya di depan Margot Kim, sang anak, dengan harapan bahwa mereka akan bisa meneruskan hidup dengan bahagia.

Semuanya memang tampak baik-baik saja bagi David, tapi ternyata tidak demikian bagi Margot. Suatu hari, Margot menghilang tanpa kabar berhari-hari. Tidak seperti biasanya, Margot tidak membawa serta laptop-nya ketika keluar rumah. David mulai cemas dan memutuskan menghubungi 911 untuk melaporkan kasus hilangnya Margot. 

Detective Rosemary Vick, seorang detektif di kota itu kemudian datang karena ditugaskan untuk mengusut kasus itu. Mereka mulai menyisir San Jose --kota tempat tinggal David dan Margot. Suatu hari, David merasa sudah harus membuka laptop Margot, untuk melihat apa saja yang belum dia ketahui, atau apa yang mungkin bisa membawanya kepada sang anak yang mungkin tak pernah benar-benar dikenalnya dengan baik --yang mungkin saja masih hidup, atau malah sudah mati. 

WELL! Searching punya twist yang smart enough menurutku. Rasa senang setelah menonton Searching kemarin rasanya mirip dengan ketika usai nonton Gone Girl dulu. Dua film dengan penceritaan yang apik dan twist yang cerdas. Tapi tentu saja akting pemain Searching masih belum bisa mengalahkan akting berengsek Rosamund Pike sebagai Amy Dunne. Searching belum sejauh itu, tapi dari segi cerita ia cukup hebat. 

Aku suka film-film dengan teka-teki yang memukau. Searching juga mengajarkan kita bahwa kejahatan paling sempurna rata-rata adalah kejahatan yang terjadi di dunia maya. Sebab di sana kita meraba-raba, tidak tahu pasti siapa yang kita temui dan kontak setiap hari. Margot meninggalkan beberapa video dan postingan di Tumblr miliknya, yang kemudian bisa menjadi petunjuk bagi David untuk menemukan sang putri. Kalau kamu suka teka-teki yang asik dan nggak ketebak hingga akhir film, kamu wajib nonton Searching. 


So far, tidak ada satu pun tokoh di sini yang aktingnya sangat memukau. Searching, menurutku, malah diselamatkan oleh skenario dan jalan ceritanya terutama. Oh iya, nggak tayang di banyak bioskop (di Jakarta, sih), dan jam malamnya hanya ada di bioskop-bioskop besar seperti Pondok Indah Mall dan Senayan City. Cukup worth it kok menurutku merogoh kocek sekitar 50.000 di weekday untuk nonton film ini. Mumpung belum turun layar, ayo bantu David mencari di mana Margot berada!

Comments

Popular posts from this blog

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…