Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2018

Searching: Seberapa Jauh Kamu Mengenal Orang Terdekatmu?

Kemarin malam akhirnya kesampaian nonton film Searching setelah penasaran sejak hari pertama kemunculannya. Setelah kejar-kejar waktu ke Pondok Indah Mall, akhirnya berhasil mendapatkan kursi di barisan E --nggak terlalu rendah dan nggak juga terlalu tinggi di atas. Kebetulan studio hari itu nggak terlalu penuh. 

Searching berkisah mengenai David Kim --seorang suami yang ditinggal istrinya karena penyakit kanker dan membesarkan anak mereka yang mulai beranjak remaja sendirian. David berusaha tidak mengungkit lagi mengenai istrinya di depan Margot Kim, sang anak, dengan harapan bahwa mereka akan bisa meneruskan hidup dengan bahagia.
Semuanya memang tampak baik-baik saja bagi David, tapi ternyata tidak demikian bagi Margot. Suatu hari, Margot menghilang tanpa kabar berhari-hari. Tidak seperti biasanya, Margot tidak membawa serta laptop-nya ketika keluar rumah. David mulai cemas dan memutuskan menghubungi 911 untuk melaporkan kasus hilangnya Margot. 
Detective Rosemary Vick, seorang dete…

Trip Cirebon 3: Menggali Feminisme Lebih Jauh, Mengenal Islam Lebih Jauh Lagi

Postingan yang ini sebenarnya lebih merupakan ke opini pribadi mengenai bagaimana saya merasakan perjalanan ke Cirebon bersama Xpedisi Feminis kemarin. Mungkin kesan yang saya rasakan sedikit berbeda dengan teman-teman yang lain. Sepertinya, lho, ya. Jika teman-teman yang lain merasa bisa mengenal feminisme lebih dalam dan mengenal langsung tokoh-tokoh perempuan yang feminis, saya justru merasa semakin jauh dari apa yang saya ketahui sebelumnya. Apa yang saya ketahui pun sebenarnya tidak terlalu banyak, bayangkan jika semuanya semakin terasa jauh.
Sebaliknya, saya merasa bahwa nilai-nilai Islam yang dibawa di dalam perjalanan ini bikin adem. Saya bisa mengenal orang-orang hebat. Para Kyai yang berpikiran sangat kritis dan terbuka pada perbedaan, sangat toleran --bahkan saya sempat berpikir jika mereka tiba di Jakarta mungkin akan diteriaki JIL oleh netijen yang budiman. Selain itu, saya juga melihat langsung dengan Nyai Hj. Masriyah Amva --pemimpin pesantren Kebon Jambu al-Islamy, Ci…

Trip Cirebon 2: Benarkah Nabi Muhammad SAW seorang Feminis?

Masih sambungan dari postingan sebelumnya, pada postingan ini saya secara khusus akan bercerita mengenai penuturan KH Marzuki Wahid yang merupakan pendiri Fahmina Institute. Secara khusus, pada siang itu beliau membahas mengenai Feminisme dalam Islam.

Islam lahir pertama kali pada abad ke-7 masehi di Jazirah Arab bagian tengah, jauh sebelum Feminis lahir di wilayah Eropa. Sebelum Islam masuk, dikisahkan bahwa keadaan saat itu sangat memprihatinkan. Perbudakan dianggap bagian dari sistem sosial, sikap tidak manusiawi pun dianggap biasa saja. Banyak terjadi pelecehan seksual, pemerkosaan, pembunuhan, perempuan dilindungi di dalam rumah sebab keluar rumah dianggap berbahaya.

Lalu, bagaimana kondisi perempuan sebelum Islam ada?
- Bayi perempuan dikubur hidup-hidup sebab dianggap membuat malu
- Perempuan dikawinkan sebelum haid dan bisa diceraikan begitu saja
- Perempuan diperdagangkan dan diwariskan
- Perempuan merupakan simbol kehinaan
- Dianggap sebagai alat pemuas seksual laki-laki
- …

Trip Cirebon 1: Main ke Kota Wali Sambil Belajar Feminisme dalam Islam Nusantara

Akhir pekan lalu (25 dan 26 Agustus 2018) saya bersama kawan-kawan dari @XpedisiFeminis berkunjung ke kota udang sekaligus kota wali, Cirebon. Salah satu kota kecil di Jawa Barat itu termasuk yang cukup enak untuk melarikan diri dan menyepi --selain Jogja tentu saja, menurut saya. Sebelumnya, saya pernah ke Cirebon 3 tahun lalu. Solo trip. Karena ingin melarikan diri dari rutinitas yang menyebalkan.

Tema perjalanan kali ini adalah mengenal feminisme dalam Islam. Dua hal yang agaknya sangat berbeda, jadi bikin penasaran juga. Kami berangkat Sabtu pagi dari Jakarta, menumpang bus kecil yang mungkin hanya menampung 20-30 orang saja. Perjalanan ke Cirebon yang seharusnya hanya 3 jam, ditempuh dalam waktu 5,5 jam. Sekitar jam 1 siang, kami tiba di Cirebon dan langsung ke Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) untuk makan siang sekaligus mengikuti rangkaian acara pertama.

Pembicara di hari pertama adalah Ibu Mariana Amiruddin dari Jurnal Perempuan (dan juga menjabat sebagai komisioner Komas P…

Membahas Perspektif Islam tentang Kekerasan Terhadap Perempuan bersama Ibu Musdah Mulia

Hari ini saya mampir ke House of the Unsilenced yang diadalan di Galeri Cemara, Menteng, Jakarta Pusat. Acara ini digagas oleh Eliza Vitri Handayani dengan merangkul sekelompok seniman dan penulis dari berbagai latar belakang untuk mendukung teman-teman penyintas kekerasan seksual. Pada acara ini, mereka memilih beberapa cerita teman-teman lain yang dibagikan kemudian diolah menjadi sebuah karya baru yang kemudian dipamerkan. Karya tersebut bisa berupa rekaman audio yang bercerita, tulisan, surat, lukisan, rajutan, hingga boneka juga ada! Karya-karya tersebut bisa dibeli langsung di bagian resepsionis tetapi tidak boleh difoto jadi nggak bisa dibagikan di sini.
Well, selain pameran, mereka juga mengadakan diskusi. Salah satunya sore tadi, ada diskusi Perspektif Islam tentang Kekerasan Terhadap Perempuan bersama Ibu Musdah Mulia --seorang pengajar sekaligus aktivis perempuan yang sudah cukup dikenal. Diskusi ini dipandu oleh penulis sekaligus jurnalis --Feby Indirani. Salah satu kalim…

Trip Bali 4: Pengen Traveling ke Ubud? Yok!

Honestly, ini postingan yang agak mengacu ke opini pribadi aja, sih. Sebagai orang yang baru pertama kali ke Ubud, kupikir ada beberapa poin yang harus dipahami oleh mereka yang ingin solo traveling ke Ubud --Ubudnya lho, ya, bukan bagian Bali yang lain. Kalau kamu ke Legian, Kuta, sih, pasti ramelah. Kamu punya lebih banyak pilihan. Ubud ramai --itu benar, tapi ada beberapa sikon yang membuatnya berbeda dari daerah Kuta atau Legian. Tempo hari, Kak Ayu nanyain mengenai Ubud juga. Kami ngobrol gak lama setelah aku balik dari Bali. Dan sama seperti aku sebelum ke sana, ternyata Kak Ayu juga nggak ngeh sama poin-poin berikut ini.

Apa aja? Yuk, simak di bawah ini. WAH, TERNYATA NOMOR TIGA MENCENGANGKAN! 

1. Di Ubud nggak ada transportasi online
Sebagai bocahe transportasi online, jelas aku selalu mengandalkan driver-driver yang siap menjemput dan mengantar ke mana pun. Selain itu, ya, karena aku juga belum sempat les nyetir mobil sendiri, jadi agak kerepotan kalau nggak ada transportasi …

90 Minutes on Travel Writing bersama The Jakarta Post Writing Center & Agustinus Wibowo

Kemarin tengah malam, seorang kawan mengirimkan informasi mengenai kelas menulis bertajuk 90 Minutes on Travel Writing bersama Agustinus Wibowo. Kupikir mataku siwer malam-malam, tapi ternyata aku nggak salah baca. Beneran, Agustinus Wibowo penulis Titik Nol itu. Aku pernah baca bukunya beberapa tahun lalu --dan kayaknya aku harus berterima kasih sekali lagi sama yang ngadoin buku itu dulunya, soalnya aku suka banget sama tulisan Agustinus Wibowo dan dia jadi salah satu figur selain Windy Ariestanty yang menurutku cara menulis catatan perjalanannya bagus pake banget. Ketika orang lain menuliskan tempat-tempat mainstream hanya sampai permukaan, Agustinus Wibowo menuliskannya dengan lebih mendalam dan membuatku serasa ada di sana. Sambil kriyep-kriyep, jam 1 dinihari aku ngisi form pendaftaran kelas.
Siangnya, aku mendapat balasan dan admin media sosial The Jakarta Post Writing Center yang bilang aku boleh langsung datang aja ke lokasi. Sesuai ekspektasiku, kelasnya cukup seru dan tida…

Mengapa Kita Tidak Boleh Diam Ketika Mengalami Pelecehan Seksual

Aduh, dari mana harus mulai postingan ini ya, hemm.. Intinya tadi siang aku dapat chat dari nomor yang nggak aku save, tapi masih ada history chatnya. Setelah aku scroll, ternyata dari salah satu admin akun di Instagram. Nama akunnya (at)akujuga.id --semacam wadah untuk menceritakan pengalaman pelecehan seksual yang pernah kamu alami. Bunyi chatnya begini..

Halo, selamat siang.Aku ingin membuat karya berdasarkan kisah-kisah teman-teman yang pernah mengalami pelecehan atau kekerasan untuk menjadi bagian dari karya yang dipamerkan di Rumah Kami Yang Tidak Bungkam. Konsep karyanya adalah membuat pengunjung memperhatikan kisah-kisah tentang pelecehan dan kekerasan yang sebenarnya terjadi dimana-mana, tapi sering tidak mau diakui atau dilihat. Jadi rencananya saya akan mengadaptasi dan menyaring terus dicetak ke benda-benda sehari-hari dan disebar di galeri sehingga pengunjung akan bisa menemukannya dan membaca ya ketika berkeliling di area galeri. Tim Unsilenced.
@unsilenced_
Yhak, benar s…

Pulau Terlarang: Kembalinya Vasca Vannisa

Barangkali tak banyak yang mengenal nama Vasca Vannisa. Ia seorang DJ yang juga model dan penulis. Beberapa tahun lalu pertama kalinya saya membaca novel perdananya berjudul Paranoid (Ketakutan yang Menghantui). Sejak itu jadi suka karya Vasca. Terutama karena di novel Paranoid settingnya adalah jalan lintas Sumatera. Sumatera adalah kampung halaman saya sendiri dan senang rasanya menemukan novel bersetting jalan lintas Sumatera. Receh banget, ya? Begitulah.

Sejak itu jadi beli novelnya yang lain: Don't tell me anything, Psychopath Diary, dan membaca Dejavu walau kehabisan dan nggak kebeli sampai hari ini. April kemarin, Vasca seperti kembali dari hibernasi panjangnya. Sudah agak lama sejak terakhir Psycopath Diary terbit, Vasca akhirnya menerbitkan sebuah buku baru berjudul Pulau Terlarang. Kalau dibaca settingnya, masih di Sumatera --tepatnya di pulau terpencil di ujung Sumatera. Vasca menyebutnya Pulau Sekam, dengan sebuah pantai bernama Pantai Larangan. Entah, mungkin ini mem…

Melihat Pelakor Bekerja

Judulnya memang agak mirip buku Aan Mansyur yang Melihat Api Bekerja. Somehow, ini adalah sedikit modif dari judul tersebut sebab aku pikir belakangan isu pelakor (perebut laki orang) memang sudah semakin merajalela. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan sebenarnya, meski aku nggak berharap banyak orang membacanya. Mungkin semacam tumpahan unek-unek aja.

Ketika isu pelakor booming
Padahal perempuan penggoda sudah ada dari zaman dulu kala, mungkin dari aku kecil, mungkin sejak orangtua kalian masih pacaran asoy, tapi baru belakangan ada sebutan pelakor. Minggu lalu aku ketemu seorang kawan terus ngobrol, kubilang, "kenapa sekarang pelakor marak banget isunya? Dikit-dikit, netijen teriak pelakor. Padahal konsepnya kan sebenernya sama dengan Wanita Idaman Lain alias WIL yang dulu kadang disebut di majalah-majalah dewasa." Waktu kecil ada majalah Kartini di rumah, dan aku suka baca bagian rubrik Oh Mama Oh Papa, kemudian istilah itu kubaca cukup sering meski aku nggak tahu makna…