Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2018

Trip Bali 3: Bali dan Masyarakatnya yang Ramah

Ketika semua orang menggali apa saja tempat wisata menarik di Bali, pasca trip Bali kemarin aku pengin menggali apa saja sisi lain dari The Land of God ini. Well, selain yang kumention di sini bahwa ada toko buku menarik di Ubud, aku juga kagum pada Bali karena keramahan masyarakatnya. Begitu tiba di Bali, aku dan babang nyewa mobil yang diantarkan ke bandara Ngurah Rai. Dari sana, tentu kami harus isi bensin dulu.

Di sebuah pom bensin nggak jauh dari bandara, seorang Mbok-mbok petugas pom bensin menyapa kami ramah sekali. Terus ngajak ngobrol, nanya dari mana, nggak lupa memberi senyum.

"Ohh dari Jakarta, mau ke mana, Mas?"
"Bikin rumah di Bali aja. Di Gianyar --dekat rumah saya, masih murah tanahnya. Tuh, mbaknya pasti setuju. Iya, kan?"
"Selamat berlibur dan keliling Bali, ya."
Sederhana sih, hanya percakapan-percakapan sederhana, tapi aku selalu kagum pada orang asing yang tak sungkan menyapa dan memberikan senyum lebih dulu apalagi kepada wisatawan lo…

Trip Bali 2: Ganesha Bookshop - Toko Buku Kecil di Ubud

Kebahagiaan nomor 2 ketika main ke Ubud kemarin adalah ketemu toko buku kecil di samping Kantor Pos di Jl. Raya Ubud. Awalnya sederhana, karena udah janji sama seorang kawan baru, hendak mengirimkan kartu pos buat dia di Jogja. Cari kartu pos bukan hal yang sulit di Bali atau Jogja, percayalah. Di Bali hampir semua toko souvenir menjual kartu pos.

Akhirnya meluncur ke tempat yang dituju, sekalian sepulang dari kantor pos rencananya mau coba ngemil di Bali Buda (semacam kafe yang menjual makanan dan minuman sehat gitu, cukup terkenal kayaknya di Bali). Tapi ketika lihat maps, eh ada toko buku namanya Ganesha Book Shop. Karena iseng dan memang dekat, main dulu ke toko buku.

Ganesha Book Shop ini mengingatkan pada Dasa Book di Bangkok. Sama-sama toko buku lokal dan ya memang hanya ada di sana aja. Buku yang dijual pun segmented, nggak kayak di Gramedia. Konsep keduanya sama: menjual buku baru maupun bekas. Bahkan Ganesha juga beli buku bekas yang mau dijual seingetku, deh. Hem..

Bedanya…

Review: Museum Masa Kecil - Avianti Armand

Sebenarnya sudah beli bukunya dan sudah selesai dibaca. Jarang-jarang tertarik sama buku puisi, sebenarnya, tapi judul buku dan bentuk bukunya cukup menggoda. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Gramedia Pustaka Utama 'berani' mengeluarkan buku yang pinggirnya dijahit. Semacam kayak handmade itu, alih-alih buku cetakan mesin. 
Museum Masa Kecil juga merupakan judul yang cukup menarik. Yang kebayang adalah isi kepala seseorang mengenai kenangan-kenangan masa kecilnya. Harganya nggak nanggung-nanggung, 80.000 IDR per eksemplar, padahal bukunya juga nggak terlalu tebal. Tapi mungkin sebanding sama ide, konsep, dan ilustrasi di dalam buku ini. 

Museum Masa Kecil menyajikan puisi-puisi yang terbaca seperti rangkaian imajinasi liar seorang anak kecil. Ia menceritakan banyak hal, tapi feelnya cenderung kelam. Rasanya seperti melihat kisah masa kecil yang sedih dan kesepian. Aku nggak pinter menilai sebuah puisi, tapi karya Avianti Armand yang ini cukup ngena menurutku. 
Ra…

Penting Nggak Penting Soal Personal Branding

Jadi kemarin di akun instagram pribadi, aku sempat posting 15 akun/tempat/orang yang menurutku follow-able.Lumayan view-nya banyak. Hehe. Karena aku anaknya suka berbagi, aku ngepost di Twitter juga bahwa aku baru highlight postingan story itu. Nggak lama, ada reply masuk dari seorang mas-mas yang nggak aku kenal tapi cukup menarik perhatian karena akunnya centang biru.

Randomly, masnya menyarankan agar aku menyamakan id Twitter dan Instagramku.

Sebenernya aku sudah tahu sih. Intinya selain untuk lebih mudah diingat orang, pastilah menyamakan id media sosial merupakan sebagian dari personal branding.

Aku pernah jadi bloger yang cukup aktif --meski nggak tenar-tenar amat juga, pernah menyerap berbagai macam teori personal branding bahwa kita harus begini dan begitu di media sosial untuk bisa diingat dan mencuri perhatian.

Tapi masalahnya sejak aku stabil di pekerjaan yang sekarang, aku udah nggak ngeblog dengan aktif dan runut lagi. Blog ini aja dibuat setelah hilangnya blog lama (meski a…

Trip Bali 1: Oleh-oleh Paling Sederhana dari Negeri Tenang Bernama Ubud

Mendadak saja awal minggu kemarin dapat kesempatan ke Bali. Well, sebenernya karena mendadak diajak ke Bali. Buru-buru cuti dan menyelesaikan pekerjaan kantor agar tidak terlalu banyak yang harus dikerjakan di pulau seberang. Tujuan utama ke Bali sebenarnya adalah Ubud. Ubud --negeri yang katanya tenang banget dan masih sejuk hawanya itu adalah bucket list sejak kuliah dulu, sejak belum jadi siapa-siapa, sejak nggak punya uang sepeser pun dan nggak berani membayangkan bisa ke sana. Beneran :p Terus cita-cita yang tumbuh beberapa tahun lalu adalah #YogaDiUbud2016, #YogaDiUbud2017, dan ditunda terus karena kayaknya belum rezeki. Hingga sekarang hastagnya jadi #YogaDiUbud2018 dan voila, kesampaian!

Yhak, tentu saja ke sana tujuan utamanya untuk (foto) yoga, bukan ke monkey forest kayak orang-orang kebanyakan. Hari pertama ke Bali langsung meluncur ke Ubud. Nyetir mobil sendiri agar tidak terlunta-lunta di desa orang. Dan beneran aja, ternyata taksi online segala merk tidak boleh beroper…

Mengenang Gairah Wartawan Media Cetak Lewat ‘Koran Kami with Lucy in The Sky’

*postingan lama, dipindahkan dari akun Medium karena lagi pengen aja

Menjadi wartawan termasuk salah satu cita-cita saya sewaktu kecil. Keluarga bisa memupuskan
harapan saya menjadi psikolog dan sutradara, tetapi mereka tak bisa membunuh keinginan saya untuk terus menulis. Menjadi penulis dan wartawan adalah bucket list terbesar saya hingga selesai kuliah. Saya sempat bekerja di media, menulis untuk portal, dan berbagai macam lainnya -meski belum mampu menjadi wartawan investigasi seperti cita-cita saya dahulu.

Alih-alih menjadi wartawan investigasi, saya menjadi penulis portal lifestyle dan menggeluti dunia anak-anak. Hahaha. Sungguh sesuatu yang berkebalikan terlalu jauh. Tetapi sejujurnya saya salah satu pengagum wartawan-wartawan senior yang bekerja di media cetak. Tak hapallah saya nama mereka satu per satu, tetapi saya tahu mereka semua hebat, semangat mereka besar.

Ketika menjadi penulis/wartawan di era teknologi canggih saja, saya kerap malas. Bagaimana jadinya jika saya hidu…

Mencari Jati Diri di Film Satu Hari Nanti

*postingan lama, dipindahkan dari akun Medium karena lagi pengen aja

Ini review yang agak terlambat beberapa waktu. Maklum, sebenarnya pengen nulis dari selesai nonton tapi nggak sempat mulu. Well, sebenarnya sudah penasaran sama film Satu Hari Nanti sejak nonton trailernya. Meski bisa dibilang pasarnya terbatas karena untuk menonton film ini kamu akan diminta memperlihatkan KTP untuk memastikan usiamu cukup.

Satu Hari Nanti adalah film dewasa karya Salman Aristo. Meski menurut saya adegan filmnya tak sedewasa itu untuk dibatasi dengan KTP, tapi memang konfliknya sangat relevan dengan orang usia dewasa-muda usia pertengahan 20–30an.

Satu Hari Nanti berkisah mengenai Alya (Adinia Wirasti) yang tinggal satu apartemen dengan Bima (Deva Mahendra). Keduanya tinggal di Swiss karena Alya harus sekolah cokelat atas keinginan ayahnya, sedangkan Bima menyusul Alya karena cinta (yaela banget, right? Lol). Di sisi lain, ada Chorina (Ayushita) yang merupakan sahabat Alya dan Bima. Ia anak seorang …

Membaca Zine Merah Merona yang Menelanjangi Kehidupan Percintaan Millenial

*postingan lama, dipindahkan dari akun Medium karena lagi pengen aja

Akhir pekan yang lalu saya mampir ke Post Book Shop, sebuah toko buku independen di kawasan Pasar Santa, Cipaku, Jakarta Selatan. Jika mengesampingkan masalah panasnya — sebab tempat ini ada di tengah pasar, Post Santa sebetulnya salah satu tempat favorit saya.

Di sana saya mencari bacaan unik. Percayalah, Post selalu punya hal unik yang bisa dibagikan dengan pengunjungnya. Keunikan toko buku ini, sepasang pemiliknya adalah penikmat buku dan dengan senang hati merekomendasikan bacaan atau menceritakan sedikit mengenai buku yang kamu incar.

Karena masih banyak bacaan menumpuk, akhirnya saya memutuskan membeli zine saja. Jika kamu belum tahu, zine adalah majalah independen. Seperti majalah pada umumnya saja, tapi lebih ‘seenaknya’ sebab tak memiliki tatanan baku baik dalam pembuatan maupun penerbitan. Zine bisa dicetak sedikit elit maupun difotocopy. Saya punya beberapa zine fotocopy-an yang dijual murah karena hanya h…

Cara Receh Untuk Bahagia: Mengurangi Hasrat Ghibah

(Foto: Pexels)
Beberapa bulan ini sering mikirin banyak hal random kalau lagi pusing sama kerjaan. Salah satunya adalah:
Jangan-jangan dulu lebih sering ghibahin orang daripada sekarang? Mungkin karena dulu punya banyak waktu, sekarang nggak lagi. Blablabla... Pernah nggak, sih, kamu merasa bahwa semakin sedikit waktu luang, maka semakin sedikit juga kegiatan-kegiatan nggak terlalu penting yang kamu lakukan? Terus semakin tua umur, rasanya udah semakin malas gabung sama terlalu banyak orang, hahahehe padahal nggak begitu nyaman dengan hal tersebut. Rasanya pengen banyak-banyak nulis, baca buku, blogwalking, jalan kaki, etc. Otomatis teman juga berkurang dan hal-hal yang diupdate di medsos berubah.

Medsos rasanya bukan lagi hal yang utama, padahal dulu pasti tiap hari buka/update. Sekarang bisa aja cuma buat baca-baca, diupdate sesekali, atau bahkan nggak sama sekali untuk jangka waktu yang lama. Lebih banyak sibuk kerjain kerjaan kantor, baca buku bagus (kayaknya masih banyak banget bu…