Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2018

Nonton Film: Kulari Ke Pantai

(Foto: kularikepantai.com)
Film Kulari Ke Pantai akhirnya resmi tayang mulai 28 Juni kemarin! Sebenernya awalnya mengira ini semacam film drama musikal gitu, ternyata lebih ke film anak-anak dan keluarga. Lebih gemesnya, Marsha Timothy memerankan sosok Ibu dengan baik. Uci --tokoh yang diperankan Marsha Timothy adalah seorang ibu muda dengan seorang anak bernama Samudera, memilih tinggal jauh di Rote, Nusa Tenggara Timur, menjauh dari ibukota, agar anaknya dekat dan mencintai alam.

Suatu hari, mereka pulang ke Jakarta mengunjungi Grandma yang berulang tahun. Setelah dari Jakarta, Ibuk dan Sam berencana road trip ke berbagai kota seperti Cirebon, Blitar, Bromo, dan akan pergi ke G-Land sebagai tujuan akhir karena Sam yang hobi surfing sangat ingin bertemu Khailani Johnson --atlet surfiing idolanya. Awalnya kurang familiar dengan sebutan atau nama G-land, tapi ternyata tempat ini merupakan salah satu pantai di daerah Banyuwangi. Nama aslinya Pantai Plengkung, dan G-Land adalah nama pang…

Saya Juga (Pernah) Posesif

Tadi malam nggak sengaja liat insta story seorang teman yang menceritakan pengalaman pribadinya beberapa tahun lalu. Menurut saya isinya bagus. Bisa dibaca di bawah ini...


Postingan itu bikin inget bahwa dulu saya sendiri juga pernah kayak gitu. Tapi kadang penasaran, apa sih alasan seseorang jadi posesif, yekan? Kalau saya dulu sih honestly karena pasangannya ketahuan selingkuh, saya marah dan dia minta kesempatan sekali lagi padahal udah sempat putus. Anehnya, setelah balikan, saya merasa bahwa saya bukan orang yang sama lagi. Tambahan: saya pun merasa dia bukan orang yang sama. Saya jadi insecure, serba cemas. Saya nggak mau dibodohi kedua kali, jadi saya memantau dia ngapain aja setiap hari. Udah kayak aspri.

Rasanya nggak enak. Nggak jadi diri sendiri. Capek. Ngabsen seseorang tiap hari itu melelahkan banget. Dan saya tiba di satu titik ketika saya merasa itu nggak berguna sama sekali. Toh, akhirnya dia ketahuan selingkuh sekali lagi sama orang yang sama. Jadi itu saatnya melepas…

Fenomena Sugar Daddy dan Sugar Baby Relationship

Nggak tahu kapan tepatnya semua ini dimulai, yang jelas kemarin pas baru bangun tidur siang (bangunnya sore), dapat notifikasi Twitter. Ada mention begini...
Belengcek :))
Usut punya usut, ternyata katanya ada seorang dedek gemesh yang buat thread mengenai Sugar Daddy. Dikisahkan, beliau itu katanya pernah punya Sugar Daddy di umur 17 tahun (plus sisipan nasehat bahwa kalau masih 16 tahun ga usah coba-coba. Jiwa judesku sebagai mbak-mbak 25 tahun rasanya ingin berkata: dek, ko pikir 17 tahun itu juga sudah tuwak? Belom kenal duwek aja, duweekk).



Terus katanya Sugar Daddy-nya umur 26. Aku berusaha untuk tidak julid dan membaca semuanya sampai selesai meski sebelum itu kusudah membaca rentetan panjang makian netijen dan segala macam celaan buat dedek bernama Bella ini. Sampai si dedeknya ganti username Twitter dan hapusin thread. Ya, aku juga kebagian sisaan. Baca threadnya dari capture-an orang. Sungguh. Ia cuma seorang anak remaja beranjak gede yang mungkin gak paham dengan jelas apa …

Baca Buku Ringan VS Baca Buku Serius

Setelah menamatkan beberapa buku ringan dan satu buku pop, hari ini mulai membaca buku dengan diksi agak serius, sedikit sarkas, dan tampaknya memang ditujukan untuk mengolok-olok hal sekitar yang nggak beres. Rasanya melelahkan. Padahal baru 100 halaman dengan 1 cerita dilangkahi.

Sebagian orang mungkin nyaman membaca buku dengan diksi serius melulu, sebagian lainnya mungkin hanya keren-kerenan. Tapi rasanya sakit kepala. Buku terakhir yang saya baca sebelum ini adalah Winnie The Pooh dan tentu isinya jauh berbeda.


Ketika membaca buku serius, saya menjadi super pelupa. Baru baca paragraf kedua, bisa aja langsung lupa tadi baca apa di paragraf pertama. Parah? Banget. Kayaknya dulu saya nggak pernah se-pelupa ini. Mungkin semakin hari, semakin banyak pekerjaan, semakin banyak yang harus diingat, kepala akan semakin jadi pelupa. Jadinya gampang melupakan hal-hal kecil.

Atau, memang, ya... Saya ingin melupakan beberapa hal terus kemudian kebiasaan dan kebawa-bawa sampai ke hal lainnya. D…

Review: Winnie The Pooh - A.A. Milne

Sudah lama rasanya nggak baca buku anak-anak. Ringan, dan nggak butuh berpikir ketika dibaca. Winnie The Pooh ditemukan secara tidak sengaja di Togamas Jogja ketika sedang berpikir keras hendak membeli apa. Dan, saking keras mikirnya, baru dibeli di TM Book Store Depok.

Tapi siapa peduli. Sebab akhirnya punya buku ini. Buku terbitan Noura Publishing ini dilengkapi ilustrasi-ilustrasi kece di setiap halamannya, yang menjadi perwakilan dari isi bab cerita.

Sama seperti judulnya, Winnie The Pooh menceritakan petualangan seekor beruang jenaka bernama Pooh. Teman baiknya --Christopher Robin, tinggal di sebuah rumah pohon di hutan. Oke, semuanya memang tinggal di hutan. Pooh si beruang, Christopher Robin si anak manusia, Piglet si anak babi lucu, Eeyore si keledai pencemas, Owl yang pintar dan berpengetahuan luas, Kanga dan Roo --ibu + anak kanguru yang lucu, Rabbit si kelinci.

Yang paling gemes adalah Roo yang suka mencicit menyapa sekitarnya, dan ekor portable-nya Eeyore tentu saja. Baya…

Review: Supernova (AKAR) - Dee Lestari

Sudah berapa lama Supernova pertama kali terbit? Waktu itu mungkin era awal tahun 2000an, saat orang-orang belum mengenal siapa Dee Lestari. Ada Supernova berjudul Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Dicetak dengan kertas serupa koran, fontnya masih kentara dan khas ala anak muda 2000an. Tapi gue pertama kali pegang buku itu tahun 2016, Waktu itu dipinjamkan seorang kawan. Dan karena dia mau pindahan, bukunya gue balikin tanpa pernah selesai dibaca.

2 tahun setelahnya, gue ada di Togamas Afandi di Yogyakarta. Gue kehabisan bahan bacaan karena Jeruk Kristal --buku yang sehari sebelumnya gue beli di Togamas Kotabaru, sudah selesai diludeskan.

Karena nggak ada buku yang bikin selera, akhirnya coba-coba cek rak yang banyak buku Dee. Akar adalah satu-satunya buku Supernova yang blurb-nya bikin gue pengen mencoba lagi (membaca Supernova, sebab dulu kayaknya nggak terlalu paham. Apalagi baca buku pertama aja nggak selesai).

Akar berkisah mengenai Bodhi, seorang anak laki-laki mencari jati di…

Review: Jeruk Kristal - Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Salah satu kalimat yang pantas untuk memulai review ini adalah: oke, ini salah satu buku terbaik yang gue baca minggu ini!
Di awal terbitnya buku ini, orang-orang kayaknya hebohnya karena sang penulisnya adalah penerjemah komik Asterix. Tapi, gue bahkan nggak berekspektasi tinggi mengenai hal itu, karena kayaknya sama sekali nggak ada hubungannya dengan buku ini. Dan Jeruk Kristal berhasil membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bukan di samping nama besar komik Asterix. Setidaknya, di mata gue, sih.
Jeruk Kristal merupakan sekumpulan cerpen (dan cerita terakhirnya adalah novelet, sih) yang tema-temanya sederhana namun terasa hangat saat dibaca. Pernah nggak sih kalian merasa hati kalian adem ketika membaca sebuah cerita? Nah, gitu kira-kira.
Rata-rata cerpen dalam buku ini temanya keluarga, ada juga tema percintaan antar pasangan gitu. 
Jeruk Kristal dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Juffrouw Lala, sebuah cerita mengenai dilema hidup seorang guru piano. Kisah hidup sang Juffrouw d…