Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2018

#Kerjadistartup

Tengah tahun lalu adalah masa-masa yang cukup berat. Sebenernya semuanya berasa serba salah, sih. Di kantor lama sudah suram dan nggak ada masa depannya, tapi itu zona nyaman karena memang sudah akrab sama teman dan lingkungan kerjanya. Meski bisa ditendang kapan saja tanpa persiapan, jadi semacam berjudi selama beberapa bulan sebelum memutuskan resign dari sana.
Pertengahan Agustus, gue 'ditarik' perusahaan startup dengan label yang cukup terkenal di negara ini. Bergerak di bidang transportasi. Mereka menjanjikan banyak hal, seluruh hidup terjaminlah pokoknya kalau gue ambil tawaran mereka. Sebagai manusia yang realistis, gue ambil tawaran itu dan September resmi jadi anak startup.
Dari sisi luar, kayaknya anak startup memang kelihatan keren banget. Gengsi jelas beda sama pekerjaan lain. Apalagi kalau kita ada di bawah brand ternama. Baru sebut nama aja, orang-orang udah berdecak kagum. "Wah, anak ******* toh. Keren."
Tapi sama seperti pekerjaan lainnya, startup pun a…

Menciptakan Kebahagiaan-kebahagiaan kecil

Belakangan banyak baca mengenai pengalaman-pengalaman orang yang mengalami gangguan cemas di medsos baik Twitter maupun Instagram. Salah satunya adalah orang yang gue kenal langsung meski nggak terlalu dekat. Well, gangguan cemas adalah hal yang kelihatannya kecil tapi bisa mengakibatkan dampak yang besar, sih.Beberapa kali juga cemas pada banyak hal bahkan pada keseluruhan hidup. Walau memang nggak pernah berpikir bunuh diri atau apa, tapi cukup mengganggu aktivitas sehari-hari; bikin mood drop dan nggak produktif kerja, menarik diri dari keramaian lalu jadi pasif.Salah satu cara yang kadang ngefek dan kadang nggak, yang sering gue lakukan adalah menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil sendiri. Bisa dari hal paling sederhana kayak mengikuti keinginan asing untuk makan sepotong brownies di kedai kopi, sampai bertekat untuk jalan-jalan ke luar negeri mumpung masih muda.Sebenernya juga nggak berani-berani amat ke luar negeri sendirian. Untuk belakangan ada temen jalannya :p jadi nggak…

Celotehan di Pasar Malam

Setelah sekian lama akhirnya memutuskan untuk buat blog baru lagi. Secara ajaib, blog lama hilang dengan sendirinya, sepaket dengan domain dan hostingnya. Padahal di laman vendor penyedia layanannya, domain tersebut statusnya masih aktif.

Well, karena lagi males ribut jadi males memperpanjang masalahnya. Gue nggak nanya sama sekali ke penyedia layanannya, dan membiarkan blog itu hilang aja. Selain itu, kesibukan sehari-hari sebagai budak korporat juga bikin nggak punya waktu ngeblog konsisten seperti dulu lagi.
Cobak kalau hilangnya dari dulu pas masih jadi wartawan, mungkin udah gue ajak ribut itu vendornya sekalian. LOL. Ya, soalnya sedikit banyaknya kesel juga, kan, mosok udah bayar terus tahu-tahu hilang tanpa jejak. Alasan bagus lain untuk nggak komplain adalah karena aku syudah backup data blog lama. Meski mungkin nggak semuanya selamat.
Terus, terus, mengapa Blogspot, sih? Padahal selama ini katanya suka Wordpress? Sebenernya karena alasan yang nggak penting, sih. Karena blog lama …

Melihat Perempuan Melalui The ‘O’ Project

*postingan lama, dipindahkan dari akun Medium karena lagi pengen aja

Tempo hari seorang kawan posting tentang sebuah acara di Instagramnya. Acara tersebut dilangsungkan di Bandung, pertengahan Desember, mengenai perempuan gitu deh temanya. Sayangnya, saya baru mengetahui acara tersebut H-2 dan sudah high season (alasan, sebenernya males nyari tiket mepet-mepet. Hahaha) kemudian kurang yakin kalau pun daftar, akan dapat travel ke Bandung.

Tetapi, ada sesuatu yang mengingatkan saya pada buku The ‘O’ Project. Bahwa acara itu punya banyak narsum, salah satunya adalah Firliana Purwanti, penulis buku non fiksi berjudul The ‘O’ Project. Saya ingat, dulu saya ingin sekali membaca bukunya tetapi tak pernah benar-benar mencari buku tersebut. Rasa penasaran saya muncul lagi dan dalam waktu singkat saya mendapati bukunya dijual di Tokoped*a, dengan harga murah. Dalam hitungan jam, buku itu sudah bertengger manis di meja kantor saya.

The ‘O’ Project kemudian saya lahap dalam waktu 2 hari saja. Saya m…

Berkenalan dengan Marlina dan Malena, Dua Perempuan yang Hidupnya ‘Terkutuk’ Karena Terlalu Cantik

*postingan lama, dipindahkan dari akun Medium karena lagi pengen aja

Akhir pekan kemarin -di sela-sela pelukan malam di penghujung Jumat, saya nyeletuk pada lelaki saya yang kebetulan sedang berada di ibukota, “aku pengin nonton Marlina, kayaknya seru. Anehnya, aku belum nonton trailernya. Tapi aku percaya film itu pasti bagus.”

Lelaki saya mengangguk-angguk, “itu film yang pemain utamanya istri Vino Bastian, ya?”

Dan secepat itu kami akhirnya memutuskan book tiket di XXI TIM untuk hari Sabtu, tepat di samping hotel tempat kami menginap. Dugaan saya tidak meleset, Marlina (si Pembunuh dalam 4 Babak) itu ternyata benar-benar seru dan menegangkan. Oh, setidaknya setelah nonton Marlina saya jadi kurang berselera makan sup ayam. Untung tidak terlalu mengurangi selera bercinta. Ehe.

Marlina sejatinya seorang ‘perempuan sial’. Ia menjadi sial sebab terlalu cantik untuk ukuran seorang janda di pedalaman Sumba. Seorang lelaki tua tiba di rumahnya suatu siang, mengaku akan memerkosa Marlina beram…